Festival Seni Qasidah di Kalteng, Membangun Lamandau dalam Perspektif Seni Budaya dan Potensi Alam

Festival Seni Qasidah Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah VII Tahun 2018 (FSQ VII 2018), yang berakhir hingga

Festival Seni Qasidah di Kalteng, Membangun Lamandau dalam Perspektif Seni Budaya dan Potensi Alam
istimewa
Pertunjukan bertema ’Kebersamaan Dalam Kebhinnekaan’ ini, menandai dimulainya acara Festival Seni Qasidah Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah 

TRIBUNJATIM.COM, JAKARTA - Jika kita satu jiwa (neʹfes), maka jangan biarkan prasangka gelap merajalela. Jiwa adalah benih kehidupan.

Roh yang mendasari hidup kita. Tubuh tanpa roh (pneuʹma); daya hidup, adalah mati.

Inilah persangkaan yang terdeskripsi dalam sebuah pementasan tari kolosal bertajuk ’Satu Jiwa’ yang digelar di lapangan Kantor Bupati Lamandau, Kalimantan Tengah, Sabtu (7/7/2018).

Pertunjukan bertema ’Kebersamaan Dalam Kebhinnekaan’ ini, menandai dimulainya acara Festival Seni Qasidah Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah VII Tahun 2018 (FSQ VII 2018), yang berakhir hingga, Rabu (11/7/2018).

 Tidak kurang dari 300 pelajar mengeksplorasi diri membentuk konfigurasi yang indah. Di tengah halaman luas dan megahnya panggung yang ditingkah musik dan kilatan cahaya berbagai warna.

Malam itu, anak-anak Indonesia yang terkolaborasi di Sanggar Swargaloka Jakarta dan para pelajar dari Kabupaten Lamandau, memberi spirit dan energi tak terbatas.

Baca: 7 Fakta Jaringan Penjahat Jalanan Sadis di Indonesia, Nama Khas Gengnya Hingga Ciri Tato di Tubuh

 Tari kolosal Satu Jiwa menunjukkan kecerdasan, keagungan hati dan harmoni. Membuka sekat-sekat primordialisme, menstimulasi menjaga persatuan dan kesatuan. Menguatkan bahwa seni dan budaya adalah harkat dan derajat yang ikut menentukan kualitas bangsa.

 Tarian kolosal Satu Jiwa menggambarkan betapa megahnya keragaman budaya. Mengandung pesan agar bangsa ini bersatu, bekerja keras menggapai asa.

 “Kita senang melihat pertunjukan ini. Animo, atensi dan apresiasi masyarakat cukup bagus. Walau proses latihannya singkat, dan anak-anak yang dilibatkan bukan profesional, tapi berhasil menyita perhatian,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lamandau, Dr. Meigo, S.Pd, M.Pd, selaku Koordinator Sub Bidang Pementasan Kolosal dan Hiburan Panitia Penyelenggara FSQ VII 2018.

 Meigo, mengharapkan, dari acara ini semakin menguatkan spirit ’Bahaum Bakuba’ (musyawarah – mufakat), dan Kabupaten Lamandau semakin dikenal.

Halaman
123
Penulis: Yoni Iskandar
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved