Kenang Kejadian Bom Bali, Wanita Ini Ceritakan Nasib yang Dialami Suaminya, Suaranya Sampai Bergetar

Wanita ini menceritakan peristiwa Bom Bali, dan hal tragis yang menimpa suaminya. Suaranya sampai bergetar

Kenang Kejadian Bom Bali, Wanita Ini Ceritakan Nasib yang Dialami Suaminya, Suaranya Sampai Bergetar
SURYA/PIPIT MAULIDIYA
Wayan Leniasih Korban Bom Bali 1 saat jadi narasumber di Short Course Penguatan Prespektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media, oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Surabaya, Rabu (11/7/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sebuah peristiwa besar terjadi di Bali pada tahun 2002 lalu.

Duka mendalam Wayan Leniasih (40) asal Bali belum juga sembuh, atas tragedi bom Bali yang sudah berlalu 16 tahun lamanya.

Tak mudah bagi perempuan dua anak ini melupakan kejadian memilukan yang merenggut nyawa sang suami, Kadek Sukerna di usia tiga tahun pernikahan mereka.

Meski wajah perempuan berambut sebahu itu tersenyum, namun suara sedihnya tak bisa hilang.

Leni mengaku suaranya berubah menjadi bergetar mirip orang sedang menangis, sejak suaminya hangus karena ledakan bom.

Baca: Harga Tiket Indonesia Vs Malaysia Semifinal Piala AFF U-19 Naik, Simak Cara Mendapatkannya

"Sejak saat itu suara berubah, saya sudah pergi ke dokter THT namun semuanya normal. Kata psikolog gangguan suara ini bukan dari kesehatan pita suara saya, melainkan karena kondisi psikis. Saat bicara saya tidak merasakan sakit pada pita suara, hanya saja saat cepek berat kadang bagian perut saya sakit," katanya kepada Surya.co.id, Rabu (11/7) saat ditemui di Hotel Santika Pandegiling, Surabaya.

Saat itu Lina mengisi Short Course Penguatan Prespektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media, oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) sebagai narasumber yaitu korban terorisme.

Perempuan tegar itu pun menceritakan detail bagaimana kejadian itu menimpa keluarga kecilnya yang hidup kekurangan, namun damai di sebuah kampung di Bali.

Baca: Cara Mendapatkan Tiket Indonesia Vs Malaysia Semifinal Piala AFF U-19, Masih Ada 24 Ribu Lembar

"Kami tinggal di kos Jalan Gunungsari, Kuta, Denpasar. Hidup kami kekurangan tapi ada saja rizki, dan keluarga kecil kami tetap bersyukur. Kejadian itu tahun 2002, suami saya bekerja sebagai bartender senior di Sari Club," kata Lina mulai bercerita dengan suaranya yang pilu.

Saat itu sang suami bekerja seperti biasa pukul 14.00 WITA dan pulang pukul 19.00 WITA.

Halaman
1234
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help