Hari Raya Idul Adha

Sehari Usai Versi Pemerintah, Giliran Jamaah Tarekat Syattariyah Magetan Gelar Salat Idul Adha

Jamaah Tarekat Syattariyah Magetan baru menggelar salat Idul Adha hari ini, sehari setelah versi resmi pemerintah.

Sehari Usai Versi Pemerintah, Giliran Jamaah Tarekat Syattariyah Magetan Gelar Salat Idul Adha
SURYA/DONI PRASETYO
Jamaah Tarekat Syattariyah Magetan saat salat Idul Adha di Masjid Al Mutaqin, di Dukuh Bendo, Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan dipimpin Khotib Djamiran, Kamis (23/8/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Ratusan jamaah Tarekat Syattariyah di empat kecamatan di Kabupaten Magetan, baru melaksanakan salat Hari Raya Idul Adha, Kamis (23/8/2018), atau sehari setelah versi resmi dari pemerintah.

Para penganut jamaah Tarekat Syattariyah tersebut tersebar di Kecamatan Bendo, Kawedanan, Nguntoronadi, dan Takeran. Dari empat kecamatan itu, penganut terbanyak berada di Kecamatan Kawedanan.

"Kami berkeyakinan, sholat Idul Adha jatuh hari Kamis (23/8-2018). Karena itu kami baru belakangan melaksanakan shalat Idul Adha, satu hari setelah saudara kita yang lain," ujar Djamiran, Khatib Masjid Al Mutaqin, di Dukuh Bendo, Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran kepada Surya (Grup Tribunjatim.com), usai salat Idul Adha, Kamis (23/8/2018).

Kerahkan Keluarga Sisir Masjid Musala Buru Daging Kurban Gratis, Lalu Dijual Murah Meriah ke Pasar

Tarekat Syattariyah atau di masyarakat penganut Islam di Magetan disebut Aboge. Karena pengajian jamaah Tarekat Syattariyah sebelumnya rutin digelar setiap Akad (minggu) dan Rabu Wage. Aliran tarekat ini pertama kali muncul di India sekitar abad ke-15.

Tarekat ini dinisbahkan kepada tokoh yang memopulerkan dan berjasa mengembangkannya aliran itu yakni Abdullah asy-Syattar. Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, tarekat ini disebut Bistamiyah.

Pusat-pusat Tarekat Syatariyah yang awalnya diikuti kalangan Keraton Cirebon, kemudian beralih ke pesantren-pesantren yang berada di wilayah Cirebon hingga masa sekarang. Seperti Pesantren Al-Jauhriyah, Pesantren Kempek, Pesantren Buntet, Pesantren Darul Hikam dan beberapa lainnya yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Diberi Rp 11 Juta Buat Beli Hewan Kurban, Malah Dipakai Inves Saham, Padahal Sapi Datang ke Masjid

Jejak-jejak peninggalan Tarekat Syatariyah yang berkembang di Keraton Cirebon masih bisa dilihat dari Naskah Cirebon, yang hingga kini masih terawat.

Diantaranya Naskah Cirebon yang memuat ajaran Tarekat Syatariyah ini adalah Naskah Cirebon yang berjudul Tarekat Syatariyah Ratu Raja Fatimah Sami, Tarekat Syatariyah Pangeran Raja Abdullah Ernawa, Tarekat Syatariyah Pangeran Raja Wikantadirja dan masih banyak judul lain.

Meski berbeda hari, saat melaksanakan salat Idul Adha, ritual yang dilakukan sama dengan pemeluk agama Islam lain, bahwa sebelum memotong hewan kurban, jamaah Tarekat Syattariyah melaksanakan shalat Idul Adha.

Daging kurbannya juga dibagikan kepada fakir miskin di wilayah desa setempat.

BREAKING NEWS - Terbungkus Plastik Tebal, Jenazah Shinta yang Tewas di Jerman Tiba di Indonesia

Meski berbeda pelaksanaan Hari Raya yang diyakini dengan jamaah lain, namun sampai saat ini, tidak ada masalah dengan lingkungan dan masyarakat setempat yang berbeda keyakinan. (Surya/Doni Prasetyo)

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved