Ada Kereta Api Lewat, Nenek Berkebaya di Blitar Tak Berusaha Menghindar saat Jalan Diatas Rel

Nenek berkebaya di Blitar ini tidak berusaha menghindar saat berjalan diatas rel, padahal ada kereta api sedang lewat.

Ada Kereta Api Lewat, Nenek Berkebaya di Blitar Tak Berusaha Menghindar saat Jalan Diatas Rel
SURYA/IMAM TAUFIQ
Mayat nenek tergeletak usai tertabrak KA Panataran di perlintasan KM 108, tepatnya di Lingkungan Pangkru, Kelurahan/Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Rabu (12/9/2018) siang. 

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Belum diketahui penyebabnya, seorang nenek berusia 60 tahun tertabrak Kerata Api (KA) Panataran di perlintasan KM 108, tepatnya di Lingkungan Pangkru, Kelurahan/Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Rabu (12/9/2018) siang. Namun saat kejadian itu, korban diketahui berjalan kaki dengan menyusuri rel KA.

Hingga Rabu sore, petugas belum mengetahui identitasnya karena korban memang tak membawa identitas meski menenteng tas kecil.

Yang bisa dikenali, hanya korban mengenakan pakaian kebaya dan jarit coklat, tas tangan berwarna kuning dengan berisi uang Rp 39.000, dan mengenakan sandal japit warna kuning. Untuk ciri fisiknya, di antaranya rambutnya lurus dengan panjang sebahu, dan tak ada tahi lalat di mukanya.

"Kami masih berkoordinasi dengan beberapa pihak, di antaranya para kades, agar disampaikan ke warganya, bagi yang merasa kehilangan anggota keluarganya," kata AKP Subondo, Kapolsek Talun.

Menurutnya, kejadian yang berlangsung pukul 10.40 WIB itu terbilang aneh dan tak wajar. Sebab, saat itu korban berjalan kaki, dari arah timur atau Polsek Talun ke arah barat.

Anehnya, ia melintas di rel, yang sudah dilewati sekitar 200 meter dari lintasan KA Pangkru. "Padahal, kalau berjalan kaki ke arah barat itu, jauh dari perkampungan lainnya atau hanya persawahan. Kecuali, kalau berjalan ke arah timur, korban bisa saja ke arah Pasar Talun," ujarnya.

Nah, tepat sekitar 200 meter dari lintasan yang ada palang pintunya itu, korban tertabrak KA Panataran, yang melaju dari depan korban atau dari arah Stasiun Kota Blitar.

"Logikanya, kan semestinya ia tahu kalau ada KA, yang datang dari depannya dan ia bisa menyelamatkan diri dengan melompat ke kanan atau ke kiri," paparnya.

Namun anehnya, itu tak dilakukan, sehingga mengundang kecurigaan banyak pihak. Sebab, ia tak berusaha menghindar.

Apakah ada penyebab lain, misalnya tak melihat atau tak mendengar dengan kedatangan KA, itu yang masih diselidiki petugas.

Akibatnya, korban tewas di TKP, dengan mengalami luka yang sangat parah. Selanjutnya, setelah menabrak korban, KA berlokomotif 434 itu berhenti di Stasiun Talun, yang berjarak sekitar 300 meter dari TKP. Sepertinya, ia mau bepergian namun kok cuma hanya membawa uang segitu (Rp 39.000).

"Hal itu yang lagi kami selidiki. Sebab, tak ada orang yang mengenalnya, meski di dekat TKP itu perkampungan yang padat penduduk. Sepertinya, ia bukan warga sekitar TKP itu," ungkapnya.

Karena itu, ia menghimbau bagi warga yang kehilangan anggota keluarganya, agar mengecek ke kamar mayat di RSUD Ngudi Waluya, Wlingi. (Imam Taufiq)

Penulis: Imam Taufiq
Editor: Mujib Anwar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help