Pilpres 2019

La Nyalla: Jadi Ajang Bully, Sudahi Polemik Debat Capres Berbahasa Asing

Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti,

La Nyalla: Jadi Ajang Bully, Sudahi Polemik Debat Capres Berbahasa Asing
Surya/Yony Iskandar
Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattaliti bersama KH Tijani Robet Saifunnawas atau Gus Robert di Ndalem Ploso Kediri. 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti, berharap polemik soal debat berbahasa asing untuk calon presiden segera disudahi.

Polemik itu sudah mengarah ke hal yang kontraproduktif karena kini berkembang menjadi ajang adu bully di media sosial.

 “Polemik debat berbahasa asing ini, mulai Inggris sampai Arab, sudahi sajalah. Ini polemik yang nggak mutu. Sudah tidak produktif,” ujar La Nyalla kepada Tribunjatim.com di Surabaya, Senin (17/9/2018).

 “Tenaga kita sebagai bangsa terkuras untuk hal-hal yang begini. Bangsa lain sudah berdebat soal robot dan pertanian dengan komoditas super, kita masih bertengkar soal debat pakai bahasa apa,” imbuh La Nyalla yang juga ketua Kadin Jawa Timur.

Begini Cara Wujudkan Pilpres Ceria Menurut Mahfud MD

La Nyalla berpendapat, akan lebih elok jika perdebatan diarahkan ke hal-hal yang strategis, seperti permasalahan ekonomi, sosial-budaya, reformasi birokrasi, pengembangan teknologi informasi.

 “Perdebatan itu inti demokrasi, tapi kita tidak usah permasalahkan pakai bahasa apa. Yang jauh lebih penting adalah substansi debatnya,” kata La Nyalla kepada Tribunjatim.com.

La Nyalla Absen dari Forum Ijtima Ulama II, Penyebabnya ini

 Dengan mengakhiri polemik debat berbahasa asing, La Nyalla berharap energi bangsa, khususnya netizen/warganet, bisa tersalurkan untuk hal-hal yang lebih produktif.

 “Jokowi dan Sandiaga Uno (Cawapres kubu Prabowo) juga sudah menyatakan penggunaan bahasa dalam debat agar tak perlu lagi dipermasalahkan. Lebih baik energi kita yang melimpah ini disalurkan ke pekerjaan, keluarga, membantu teman yang sedang kesusahan. Bukan malah saling hina di media sosial,” pungkasnya.

Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved