Satu Bulan Teliti Sumber Air di Kota Batu, Impala UB Agendakan Buat FGD Dengan Pemkot Batu

Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala) Universitas Brawijaya meneliti tentang sumber air di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu

Satu Bulan Teliti Sumber Air di Kota Batu, Impala UB Agendakan Buat FGD Dengan Pemkot Batu
SURYA
Sumber air 

TRIBUNJATIM.COM, BATU - Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala) Universitas Brawijaya meneliti tentang sumber air di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu selama satu bulan. Yakni terhitung sejak September hingga Oktober 2018.

Tim Impala UB melakukan penelitian di sumber air di Kota Batu karena juga merupakan sumber air yang menghidupi Kota Malang dan sekitarnya.

Anggota tim peneliti Impala Water Spring Research, Lius Alfiando mengatakan dari hasil penelitian ini timnya menemukan hanya tinggal 52 sumber mata air di Kota Batu.

"Dari data kami sebelumnya di Batu ini ada 111 sumber air, namun setelah kami teliti kurang lebih satu bulan, hanya tinggal 52 sumber mata air saja. Tentu bagi masyarakat Kota Batu hal ini sungguh memprihatinkan. Dari situlah kami mulai meneliti," ungkapnya saat ditemui dalam sosialiasi pemaparan hasil penelitian di Kecamatan Bumiaji, Rabu (14/11).

Tim DVI Polri Berhasil Identifikasi 57 Korban Lion Air JT 610 Lewat Tes DNA

Ia menyebutkan ada beberapa item yang diteliti, seperti jumlah debitnya, lalu rasa, warna, kualitas, pemanfaatan. Ia menyebutkan jika kebanyakan memang masyarakat Batu memanfaatkan air dari sumber untuk irigasi pertanian.
Disamping itu, ia juga menyebutkan kalau dari 52 sumber ada 17 sumber yang tidak sesuai dengan Perda yang berlaku.

"Seharusnya ya ada Perda yang berlaku tentang sumber mata air ini, jarak 200 meter tidak boleh ada bangunan. Tetapi kenyataannya di Batu ini jarak 100 meter sudah ada bangunan. Jika dibiarkan lama-lama akan hilang nanti sumber mata airnya," imbuhnya kepada TribunJatim.com.

Sedangkan kalau dari kualitas air, menurutnya dari hasil penelitian masih dalam kondisi bagus, dan masih sedikit tercemar dari bahan-bahan kimia.

Sehingga masih tergolong aman dan tidak mengganggu kesehatan warga. Bahkan masih dalam batas ph yang normal yakni nilai 7.

"Ke depan, kami bakal mengadakan semacam Forum Group Discussion (FGD) dengan berbagai pihak. Seperti Walhi, Pemkot Batu, dan pakar lingkungan lainnya," imbuhnya.

Pasang Surut Persebaya Era Djajang Nurdjaman di Empat Laga Terakhir

Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso menambahkan pihaknya berterima kasih kepada tim peduli lingkungan yang sudah meneliti tentang sumber mata air di Batu. Ke depan justru ia berharap ada diskusi terbuka yang membahas tentang sumber mata air.

"Kami justru sangat berterima kasih bantuan teman-teman yang meneliti sumber mata air di Batu ini. Agar sama-sama menemukan goal nya, memang lebih enak jika berdiskusi. Sehingga ada solusi bagaimana nanti kedepannya," kata Punjul.

Selain itu, ia juga sudah mengimbau kepada seluruh bangunan, seperti di sekolah, hotel, tempat wisata agar memiliki yang namanya sumur resapan. Sejauh ini sudah ada beberapa hotel, sekolah yang memiliki sumur resapan. Agar memiliki cadangan air.

"Suatu ketika di Batu ini pasti membutuhkan sumur resapan. Disamping itu kami juga memelihara betul-betul sumber mata air di Batu," pungkasnya. (Sun/TribunJatim.com)

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved