Dokter di Tuban Ini Beri Penjelasan Gizi Yang Ada Pada Kepompong Ulat

Selain memiliki kandungan protein yang tinggi yakni 15-20 persen, enthung juga berkadar air 70-75 persen, karbohidrat 10-15 persen, dan lemak jenuh.

Dokter di Tuban Ini Beri Penjelasan Gizi Yang Ada Pada Kepompong Ulat
Surya/M Sudarsono
Kepompong ulat atau enthung, tak hanya dikonsumsi sendiri tapi dijual 

TRIBUNJATIM.COM, TUBAN - Dokter Umum di Tuban, Bambang Lukmantono, ikut berkomentar terkait viralnya kepompong ulat atau yang biasa disebut enthung yang dijadikan makanan.

Dia menjelaskan secara detail mengenai kandungan yang ada pada enthung.

Selain memiliki kandungan protein yang tinggi yakni 15-20 persen, enthung juga berkadar air 70-75 persen, karbohidrat 10-15 persen, lemak jenuh dan tidak jenuh 2-5 persen .

"Untuk kandungan lemak tidak jenuh lebih tinggi dari lemak jenuhnya," Ungkap BL sapaan akrab dokter Bambang Lukmantono, Selasa (11/12/2018).

Masuk Musim Hujan, Warga Tuban Ramai-Ramai Berburu Kepompong Ulat Untuk Dimakan

Selain zat-zat di atas, zat lain juga ditemukan pada hewan yang tumbuh di sekitar hutan jati itu, zat tersebut adalah mineral dan asam amino mulai 2-5 persen.

Kandungan zat ini akan berubah sesuai dengan cara memasaknya.

"Terkait mineral dan asam amino ini bisa berubah sesuai cara memasaknya. Namun yang diketahui masyarakat adalah enthung mempunyai protein tinggi," ungkap dokter yang berpraktik di Jalan Veteran itu.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Tuban, Endah Nurul K menyatakan, karena berprotein tinggi, maka enthung juga bisa menyebabkan alergi.

Reaksi alergi tiap orang berbeda sesuai dengan ketahanan tubuhnya.

Lumayan, Tak Hanya Dikonsumsi Sendiri, Kepompong Ulat di Tuban Ini Juga Dijual

Bahkan, udang dan kerang yang biasa dimakan juga bisa menyebabkan alergi.

"Alergi berkaitan dengan daya tahan tubuh, memang protein tinggi bisa memengaruhi gatal atau alergi," bebernya.

Sekedar diketahui, beberapa hari terakhir ini masyarakat Tuban banyak yang memburu enthung.

Hewan tersebut selain untuk dimakan sendiri juga bisa dijual karena bernilai ekonomis.

Harganya pun terbilang tidak murah, satu kilo gram bisa mencapai Rp 60 ribu.

Penulis: M Sudarsono
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved