Nyumping Sambil Nikmati ‎Kopi Pahit di Desa Jelun Banyuwangi

Warga desa di Banyuwangi berlomba-lomba mengangkat tradisi lokal mereka. Warga Desa Jelun, Kecamatan Licin, Banyuwangi, menggelar festival Sumping Ko

Nyumping Sambil Nikmati ‎Kopi Pahit di Desa Jelun Banyuwangi
Surya/Haorrahman
Kopi Pahit ala banyuwangi. Bupati Banyuwangi dan warga Desa Jelun, Kecamatan Licin, Banyuwangi, menggelar festival Sumping Kopi Pait,‎ mulai Jumat (14/12) hingga Minggu (16/12), dari pukul 08.00 – 22.00 Wib. ‎ 

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Warga desa di Banyuwangi berlomba-lomba mengangkat tradisi lokal mereka. Warga Desa Jelun, Kecamatan Licin, Banyuwangi, menggelar Festival Sumping Kopi Pait,‎ mulai Jumat (14/12) hingga Minggu (16/12), dari pukul 08.00 – 22.00 Wib. ‎

Festival ini menyuguhkan jajanan khas Desa Jelun, yakni sumping. Sumping merupakan jajanan yang terbuat dari tepung beras, yang biasa dikenal dengan kue nagasari. Bedanya, warga Jelun membuat kue sumping ini dengan berbagai varian isi. Tidak hanya pisang, namun juga diisi dengan kacang hijau, ketela manis, hingga ketela pohon.

Festival yang untuk kali pertama digelar ini dibuka Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, dan menjadi tontotan baru bagi masyarakat ataupun wisatawan yang datang ke Banyuwangi untuk berakhir pekan. Ratusan warga dan wisatawan hadir dalam festival tersebut.

Anas menyampaikan, festival yang mengangkat tradisi lokal ini terus digalakkan dan dikembangkan. Selain untuk melestarikan tradisi, dengan difestivalkan bisa menjadi perekat gotong royong warga.

"Saya bangga dengan masyarakat disini yang bisa memanfaatkan potensi yang ada menjadi sebuah festival yang menarik. Ini bisa terus menjadi contoh desa-desa lain," kata Abdullah Azwar Anas kepada TribunJatim.com.

Musim Hujan, Ratusan Sapi di Pamekasan Terserang Penyakit Demam, Ini Saran dari Dinas Kesehatan

Zaskia Sungkar Iri Lihat Hunian Berkonsep Syariah di Grand Permata Jingga Malang: di Jakarta Gak Ada

Ditambahkan Abdullah Azwar Anas, festival yang berangkat dari potensi warga setempat ini, diharapkan bisa menjadi sumber ekonomi masyarakat.

"Saya kira ini bisa lebih dikembangkan sehingga bisa menjadi alternatif wisata kuliner tradisonal baru di Banyuwangi. Apalagi Desa Jelun berada di kaki Gunung Ijen yang tentunya hawanya masih segar dan daerahnya masih alami. Pasti menarik untuk wisatawan," kata Abdullah Azwar Anas.

Jajanan sumping biasanya disuguhkan saat hajatan atau lebaran saja. Dalam festival ini, warga setempat mengenalkan cara menikmati kue sumping ala Desa Jelun.

Kudapan sumping dinikmati bareng secangkir kopi hitam yang rasanya pahit. Makanya, festival ini diberi nama Festival Sumping Kopi Pait.

"Bila ingin kopi yang rasanya manis, kita menawarkan gula aren untuk pemanisnya. Bukan gula putih, karena gula aren adalah khas desa kami," kata ‎tokoh masyarakat Desa Jelun, Nasrudin Sarkawi kepada TribunJatim.com.

Di festival ini, juga bisa ditemukan aneka makanan khas Desa Jelun lainnya. Mulai nasi keruk, pecelan, urap-urap, semanggi kukus, pepesan belut hingga semur jengkol. Tak hanya itu, jajanan lainnya seperti cenil, cendol, rujak kecut dan buah-buahan yang menjadi andalan juga disajikan. (‎Haorrahman//TribunJatim.com)

Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved