Program Satwa Nusantara Solusi Polemik Sapi di Taman Nasional Baluran Situbondo

Sapi ternak milik warga sering menjadi polemik di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Keberadaan ratusan sapi milik warga tersebut, turut m

Program Satwa Nusantara Solusi Polemik Sapi di Taman Nasional Baluran Situbondo
Surya/Haorrahman
Peluncuran Satwa Nusantara solusi polemik ternak sapi di Taman Nasional Baluran. 

TRIBUNJATIM.COM, SITUBONDO - Sapi ternak milik warga sering menjadi polemik di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Keberadaan ratusan sapi milik warga tersebut, turut mendesak keberadaan satwa dilindungi yakni banteng jawa di Baluran.

Sebagai solusi, PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) bersama Universitas Negeri Jember (Unej), dan Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari Malang, meluncurkan program Satwa Nusantara.

Selain membuat aplikasi digital, mereka juga membangun solusi berkonsep Farm Chain Management System (FCMS), bagi warga Desa Karang Tekok, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, yang lokasinya berdampingan dengan TN Baluran. Program ini diluncurkan di Desa Karang Tekok, Rabu (19/12).

Selama ini, ratusan bahkan ribuan sapi ternak milik warga di sekitar Baluran, tiap hari dilepas dan masuk ke taman nasional untuk mencari makan.

Hidayat Teguh, pakar zoologi FCMS mengatakan, keberadaan sapi warga di Baluran tidak menguntungkan bagi warga dan taman nasional.

"Sapi ternak milik warga di taman nasional itu tidak menguntungkan bagi kedua belah pihak. Perjalanan jauh yang harus ditempuh sapi ke taman nasional, membuat sapi menjadi kurus dan rawan. Selain itu di musim kemarau tidak ada makanan di taman nasional," kata Teguh yang juga dosen Unej tersebut.

Kondisi Terkini Sentra Industri Sandal Sepatu Wedoro Sidoarjo, Parkiran Sepi hingga Omzet Pedagang

Pasca Jalan Gubeng Surabaya Ambles, KCP BNI Gubeng Pindahkan Sementara Aktivitas ke Dua Tempat

Sinopsis Cinta Suci Episode Rabu, 19 Desember 2018, Bu Sandra Teriak, Marcel Lalu Pecahkan Gelas

Solusi yang tepat menurut Teguh, adalah dengan mengandangkan sapi-sapi dengan pendekatan dan pendampingan kepada warga selaku peternak bagaimana mengelola hewan-hewan ternaknya.
Para peternak juga didampingi dalam menggunakan aplikasi Satwa Nusantara yang bisa memantau perkembangan hewan ternak mereka.

"Ini solusi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Sapi warga menjadi lebih sehat, dan taman nasional lebih aman," kata Teguh.

Direktur Teknologi XL Axiata Yessie D Yosetya, mengatakan, Desa Karang Tekok masuk kategori tertinggal sesuai data Kementerian Desa dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

"Program ini membantu para pemilik ternak di untuk memastikan sapi mereka tercukupi pakan dan kondisi kesehatannya sepanjang tahun, termasuk di musim kemarau," kata Yessie.

Halaman
12
Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved