Rumah Politik Jatim

Pengamat Sebut Pilwali Surabaya 2020 Harus Diisi Nama-nama Millenial Jika Ingin Kompetitif

Pilwali Surabaya 2020 harus diisi oleh nama-nama segar dan dari kalangan muda, agar bisa mengimbangi dan menyaingi Wisnu Sakti Buana.

Pengamat Sebut Pilwali Surabaya 2020 Harus Diisi Nama-nama Millenial Jika Ingin Kompetitif
TRIBUNJATIM.COM/NURUL AINI
Wisnu Sakti Buana, Wakil Wali Kota Surabaya saat Rapat Paripurna di Gedung DPRD Surabaya, Senin (4/6/2018). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aqwamit Torik

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pilwali Surabaya 2020 harus diisi oleh nama-nama segar dan dari kalangan muda, agar bisa mengimbangi dan menyaingi nama Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana yang juga masuk dalam bursa calon Wali Kota Surabaya.

Menurut prediksi, jika yang muncul adalah nama-nama tradisional atau dalam kata lain nama gaek, bisa jadi nama Wisnu Sakti Buana menjadi figur yang paling unggul di Pilwali Surabaya 2020.

"Menurut catatan dan prediksi saya, kalau yang muncul tokoh-tokoh tradisional agak berat dan sulit untuk mengimbangi nama Wisnu Sakti Buana," jelas Surokim selaku pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Kamis (10/1/2019).

Lebih lanjut, Surokim menjelaskan, Wisnu Sakti Buana hanya bisa dikalahkan oleh mekanisme seperti Pilgub Jatim 2018, yaitu memunculkan tokoh muda yang betul-betul fresh lintas partai dan sektor.

Tokoh-tokoh millenial itu sendiri juga harus punya visi membangun Surabaya sebagai kota modern.

Gus Hans Masuk Bursa Pilwali Surabaya 2020, Pengamat: Covering Media Berpengaruh

Ditambah lagi, keterkaitan tokoh muda tersebut dengan tokoh tradisional dinilai bisa mendongkrak nama mereka.

"Selama ini kriteria itu harus ditambahkan juga tokoh-tokoh muda punya patron terhadap tokoh-tokoh tradisional. Makanya disebut di survey saya, siapa saja yang disebut bu Risma itu tinggi," jelas pria yang juga direktur Surabaya Survey Center tersebut.

Tentu saja, lanjut Surokim, akan ada efek positif untuk elektabilitas tokoh millenial, jika mengait kepada tokoh tradisional, seperti Soekarwo alias Pakde Karwo, Khofifah, atau Risma itu sendiri.

"Jadi akan ada Risma effect, Pakde Karwo effect, Khofifah effect tokoh-tokoh tradisional yang disebut tadi, kalau bisa mengait ke teman-teman millenial, baru akan bisa kompetitif, tapi kalau seandainya tokoh hanya tradisional saja ya posisi Wisnu akan aman," pungkasnya.

Penulis: Aqwamit Torik
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved