Salah Kaprah Soal Sejarah Ninja Jepang, Bukan Pembunuh Tapi Intelijen dan Samurai Kelas Bawah

Banyak yang salah kaprah soal pengertian ninja dari Jepang selama ini. Ternyata awalnya ninja bukanlah seorang pembunuh

Salah Kaprah Soal Sejarah Ninja Jepang, Bukan Pembunuh Tapi Intelijen dan Samurai Kelas Bawah
getsehat.blogspot.com
Salah kaprah soal Ninja Jepang 

TRIBUNJATIM.COM - Bagi para penggemar anime Naruto, tentu sudah tidak asing dengan isitlah ninja.

Dalam cerita anime tersebut, Naruto dikisahkan sebagai seorang ninja.

Meski demikian, banyak sekali salah pengertian mengenai Ninja.

Begitu dengar nama Ninja langsung orang berinterpretasi mengenai pembunuh kegelapan atau pembunuh bayaran dan semacamnya.

Universitas Airlangga Surabaya Kolaborasi Riset dengan Profesor Jepang di Bidang Health Science

"Ninja adalah pencari informasi, intelijen, mata-mata dan justru berusaha menghindari pertikaian, bukan pembunuh," papar Yoshiki Takao, Associate Professor Universitas Mie yang juga peneliti Ninja Jepang kepada Tribunnews.com beberapa waktu lalu.

Berusaha menghindari lawan dan apabila bertemu justru berusaha kabur dengan asapnya dan segala upaya. Pembunuhan yang dilakukan sebagai upaya beladiri agar tidak tertangkap atau tidak terungkap jati dirinya.

Kemunculan ninja tercatat pada tahun 522 berhubungan erat dengan masuknya seni atau ilmu "mencuri" nonuse ke Jepang. Ilmu nonuse ini juga sering diinterpretasikan juga dengan ilmu mistik, ilmu kegelapan untuk mencuri dan ilmu inilah yang membuka jalan bagi lahirnya ninja yang sering muncul justru di malam hari agar tidak kelihatan.

Itu pulalah Ninja sejak awal menggunakan pakai warga gelap sekali bukan hanya hitam tapi bisa saja coklat tua sekali atau biru tua sekali, yang terpenting gelap agar tidak terlihat, dan seluruh tubuh tertutup kain gelap tersebut.

Seni nonuse atau yang biasa disebut seni bertindak diam-diam awalnya merupakan suatu praktik keagamaan yang dilakukan oleh para pendeta Jepang yang pada saat itu bertugas memberikan info kepada orang di pemerintahan.

Sekitar tahun 645, pendeta-pendeta tersebut menyempurnakan kemampuan bela diri dan mulai menggunakan pengetahuan mereka tentang nonuse untuk melindungi diri dari intimidasi pemerintah pusat.

Halaman
123
Penulis: Januar Adi Sagita
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved