Stabilkan Harga, Petani Buah Naga Banyuwangi Dikontrak Pembelian 150 Ton

ikenal sebagai penghasil buah naga di Indonesia, petani Banyuwangi mendapatkan kontrak pembelian dari tiga perusahaan asal Jakarta

Stabilkan Harga, Petani Buah Naga Banyuwangi Dikontrak Pembelian 150 Ton
Surya/Didik Mashudi
Musim panen raya harga buah naga yang dijual terus anjlok dalam sepekan terakhir. 

 TRIBUNJATIM.COM,BANYUWANGI - Dikenal seb

Raffi Ahmad Geleng-Geleng Lihat Garasi Sule, Ada 6 Mobil Mewah dengan Total Harga Rp 5,4 Miliar!

Viral Video Buah Naga Dibuang ke Sungai di Banyuwangi karena Harga Terlalu Murah, Cek Faktanya

Soal Pembebasan Abu Bakar Baasyir, Jokowi Sebut Syarat Setia Kepada NKRI & Pancasila Sangat Prinsip

agai penghasil buah naga di Indonesia, petani Banyuwangi mendapatkan kontrak pembelian dari tiga perusahaan asal Jakarta. Kontrak ini menjadi kepastian pasar dan harga bagi para petani di tengah melimpahnya produksi buah naga saat ini.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan mengatakan, kontrak pembelian tersebut berjumlah 150 ton buah naga. Kontrak ditandatangani petani dan pembelinya di Kantor Dinas Pertanian Banyuwangi, Senin (21/1/2019).

"Begitu kontrak ditandatangani, pengiriman bertahap langsung dilakukan. Terima kasih kepada Kementerian Pertanian yang ikut memfasilitasi kerja sama ini. Semoga ini membantu menstabilkan harga yang kini menurun,” ujar Arief.

Dari kontrak tersebut, pedagang membeli dengan harga Rp 5.000-6.000 per kg, di atas harga pasar yang sekitar Rp 2.000.

“Buah yang diambil adalah grade A dan B menyesuaikan kondisi. Kita dorong kontrak ini terus diperluas, karena bisa menjadi instrumen pengendalian harga ketika panen raya,” terang Arief Setiawan kepada Tribunjatim.com.

Saat ini, produksi buah naga memang terus meningkat. Ada lima kecamatan di Banyuwangi yang sedang panen raya secara bersamaan. Produksi buah naga di Banyuwangi terus meningkat tiap tahun. Pada 2012, produksinya masih sebesar 12.936 ton (2012), lalu meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi 42.349 ton pada 2017.

Penambahan produksi itu seiring penambahan lahan kebun buah naga. Pada 2012 baru seluas 539 hektar, pada 2017 sudah mencapai 1290 hektar.

“Banyak petani yang mengalihkan lahannya dari sawah padi menjadi buah naga karena tergiur keuntungannya. Namun, ketika panen bersamaan memang harganya berpotensi turun,” ujar Arief Setiawan.

Seorang petani, Agus Widyaputra, mengaku sangat terbantu dengan adanya kontrak pembelian tersebut. Karena di saat panen raya seperti ini dia dan petani di wilayahnya kesulitan untuk memasarkan hasil panen.

"Melimpahnya panen, buah naga dari lahan kami banyak yang tidak terbeli karena pasar sudah banjir buah naga. Dengan difasilitasi pemasaran ini, kami sangat lega," kata petani asal Kecamatan Tegaldlimo tersebut kepada Tribunjatim.com.

Agus pun langsung mengirim lima ton ke Jakarta. “Rabu (23/1) kami kirim lagi 10 ton,” ujarnya.

Arief menambahkan, untuk harga buah naga organic saat ini masih stabil di kisaran Rp15.000 per kilogram.
“Karena itu, kami mendorong dan memfasilitasi petani menggarap buah naga organik yang harganya lebih stabil,” ujar Arief.

Arief juga terus mendorong hilirisasi buah naga yang sekarang sudah dilakukan sejumlah pelaku usaha dengan mengolah buah naga menjadi beragam jenis makanan, minuman, hingga komestik.

”Hilirisasi penting untuk memberi nilai tambah agar petani tetap menikmati keuntungan yang memadai,” ujar Arief. (haorrahman/TribunJatim.com).

Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved