Tiga Faktor Pasar Perkantoran di Surabaya Akan Memasuki Kondisi yang Menantang

Pasar properti sektor perkantoran di Surabaya akan memasuki kondisi yang cukup menantang pada 2019-2021 nanti.

Tiga  Faktor  Pasar Perkantoran di Surabaya Akan Memasuki Kondisi yang Menantang
Tribunjatim/Arie Noer Rachmawati
Senior Associate Director Colliers International, Ferry Salanto saat Press Luncheon Colliers di Four Points Tunjungan Plaza Surabaya, Rabu (30/1/2019). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Arie Noer Rachmawati

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pasar properti sektor perkantoran di Surabaya akan memasuki kondisi yang cukup menantang pada 2019-2021 nanti.

Senior Associate Director Colliers International, Ferry Salanto menjelaskan, setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi pasar perkantoran di Surabaya dalam tiga tahun mendatang.

Pertama, masih adanya rumah toko (ruko) sehingga hal ini dianggap menjadi hambatan yang menyebabkan lemahnya tingkat serapan gedung perkantoran.

"Perusahaan masih memungkinkan pilih kantor di ruko karena dianggap lebih baik. Tapi kalau rumah dikonversi menjadi kantor, belum terlalu diimplementasikan," katanya saat Press Luncheon Colliers di Four Points Tunjungan Plaza Surabaya, Rabu (30/1/2019).

Faktor kedua adalah pertumbuhan ekonomi yang masih cenderung lemah. Sehingga, menyebabkan perusahaan menahan diri untuk melakukan ekspansi usaha termasuk ke Surabaya.

BREAKING NEWS: Vanessa Angel Resmi Ditahan Polda Jatim, Sesuai Syarat Objektif dan Alasan Subjektif

Bejo Sugiantoro Sebut Semua Pemain Anyar Persebaya Sudah Adapatasi

Bobol Gudang Barang Milik Mantan Majikan, Pria Surabaya Ditangkap Polisi, Hasil Curian Dijual Online

"Untuk itu, diperlukan laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi agar bisa menggairahkan perusahan untuk berani ekspansi termasuk di Surabaya," tambahnya.

Ketiga, beberapa perusahaan besar yang didukung dengan kondisi keuangan yang kuat atau mapan, cenderung lebih memilih membangun gedung kantor sendiri.

"Karena kalau memang punya kemampuan bangun dengan sewa, apalagi butuhnya besar. Misal, sewa 10 tahun. Nah, setelah 10 tahun pergi, itu bisa jadi aset atau bisa direnovasi kemudian dijual," terangnya.

Meski begitu, Ferry menjelaskan, pemilik properti perkantoran diharapkan lebih aktif memasarkan gedung kantor mereka terutama ke penyewa besar di Jakarta yang berencana mengembangkan usaha ke luar Jakarta.

"Pemilik gedung juga bisa memberikan potongan harga sewa yang bersaing untuk mendorong kinerja tingkat hunian. Apalagi adanya pasok besar perkantoran dalam tiga tahun ke depan," jelasnya.

Adapun, ditambahkan Ferry, tingkat hunian gedung perkantoran di Surabaya sepanjang 2018 sebesar 80 persen. Pada 2019-2021 mendatang, diproyeksikan tingkat hunian kantor turun menjadi 54 persen sampai 60 persen akibat tambahan pasok.

Rata-rata penambahan pasok ruang kantor per tahun pada 2019-2021 mendatang sekitar 80.000 meter persegi atau empat kali lebih besar dibandingkan tingkat serapan.

"Nah, tambahan pasok kantor ini yang akhirnya juga akan memengaruhi harga sewa maupun tingkat hunian kantor tersebut," tambahnya.

Penulis: Arie Noer Rachmawati
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved