Lewat Lentera Fotosintesis, Universitas Muhammadiyah Surabaya Raup Medali Emas di Thailand

Lewat Lentera Fotosintesis, Universitas Muhammadiyah Surabaya Raup Medali Emas di Thailand.

Lewat Lentera Fotosintesis, Universitas Muhammadiyah Surabaya Raup Medali Emas di Thailand
SURYA/HABIBURROHMAN
Lentera Fotosintesis, karya milik lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya meraih medali emas "Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation & Technology Exposition" di Thailand. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Lentera Fotosintesis, karya lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya meraih medali emas 'Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation & Technology Exposition' di Thailand.

Tidak mudah bagi mahasiswa Teknik Elektro UM Surabaya, Ghois Qurniawan dan empat anggota timnya dari mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Martha Kusuma Putri, Judith Syifa PMR, Fatma Aula N, Dikrie Vajrii VS dan Kartono mengikuti kompetisi ajang international itu.

Mereka harus bersaing di antara 25 negara dengan puluhan team lain yang juga memiliki karya inovatif

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya Kenalkan Matematika Lewat Kuis dan Mainan

Tim dari UM Surabaya ini yakin membawa karyanya, alat bantu fotosintesis untuk tanaman yang diberi nama Lentera Fotosintesis itu.

"Passionate sekali, setiap kendala mereka cepat mencari solusi. Kerja tim dan saling pengertian harus dikuatkan. Mereka bikin job desk dan melakukan dengan baik sementara jurinya itu insidentil. Tim melakukan risetnya 1,5 tahun," kata Dosen Pembimbing Tim, Yuanita Wulandari di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Senin (11/2/2019).

Sementara Ghois menjelaskan, prinsip kerja alat tersebut menyinari tanaman selama 22 jam yang dikalibrasikan dengan spektrum cahaya dan cahaya matahari.

Universitas Muhammadiyah Malang Dapat Hibah Mobil Bioskop Keliling dari Kemendikbud

Menariknya, alat tersebut memiliki sensor cahaya yang akan menyala di malam hari dan otomatis mati di siang hari.

"Ini pertama kali kita go internasional awalnya ada rasa canggung. Kami ingin patenkan untuk sistem solar sel karena sekarang masih menggunakan listrik. Jadi akan lebih hemat tenaga, efien dan mudah petani mengontrol listrik," kata Ghois.

Kelebihan produk tersebut selain mempercepat pertumbuhan tanaman, alat ini juga mempengaruhi daun tanaman lebih hijau pekat dan batang yang lebih tebal.

"Volume buah lebih berat. Selain buah, pertumbuhan juga dapat cepat dan hama peka cahaya tidak didapati di area riset kita," kata Ghois.

Mahasiswa semester VIII ini mengatakan hemat energi alat tersebut hingga 80 persen karena menggunakan lampu LED 30 watt.

"Ini untuk tanaman padi, jagung, kacang-kacangan dengan intensitas cahaya berbeda-beda," ujar dia.

Nantinya, pihaknya mengatakan alat karya mereka itu juga dapat digunakan pada pertanian di dalam gedung bertingkat sehingga petani dapat memaksimalkan lahannya.

Penulis: Nur Ika Anisa
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved