Imigrasi Surabaya Deportasi 17 WNA, ini Perkaranya

Memasuki tahun 2019 kemarin, Kantor Imigrasi Kelas 1 TPA Khusus Surabaya terpaksa harus mendeportasi warga negara asing (WNA) pergi dari Surabaya.

Imigrasi Surabaya Deportasi 17 WNA, ini Perkaranya
TRIBUNJATIM.COM/ISTIMEWA
Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya mendeportasi tiga warga negara asing (WNA) yang terbukti menyalahgunakan izin tinggal, Kamis (26/4/2018). 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Memasuki tahun 2019 kemarin, Kantor Imigrasi Kelas 1 TPA Khusus Surabaya terpaksa harus mendeportasi warga negara asing (WNA) pergi dari Surabaya.

Mereka melakukan pelanggaran keimigrasian dengan nekat berada di kota ini tanpa didukung dokumen yang lengkap.

Kebanyakan dari China. Rata-rata mereka melanggar dokumen visa. Visa kunjungan dimanfaatkan untuk bekerja di Surabaya.

Ngakunya kunjungan tapi ternyata jualan produk atau ada pula yang izinnya menjadi pembicara namun bekerja memperbaiki mesin dan seterusnya.

Ada pula karena izin tinggal mereka sudah berakhir.

"17 WNA tercatat melakukan pelanggaran. 10 di antaranya sudah kami deportasi," ucap Kakanim Khusus TPA 1 Surabaya Barlian saat ditemui di Hotel JW Marriot Surabaya, Selasa (12/2/2019).

Ahmad Dhani di Tahanan, Sikap Anak Tirinya Disindir, Anak Mulan Jameela Buka Suara Bahas Orang Tua

Khofifah - Emil Segera Dilantik, Pakde Karwo Sebut Keduanya Sudah Masuk ke Lingkaran Kultural Jatim

Viral Petugas Kebersihan Dianiaya Siswa hingga Pelipis Robek, Ironisnya Orangtua Ikut Mengeroyok

Di hotel itu, Kantor Imigrasi Surabaya tersebut menggelar pertemuan bersama seluruh Tim Pengawas Orang Asing (Timpora) Kota Surabaya. Tim ini beranggotakan polisi, TNI, Babinkamtibmaa, camat, dan lurah.

Selain dari Kemigirasian, pertemuan dalam rapat kerja itu menghadirkan Kepala Divisi Keimigrasian Kemenkumham Jatim Zakaria, Perwakila Disnaker Jatim, dan Polda Jatim.

Kakanim Barlian mencatat masih ada WNA yang tetap nekat datang ke Indonesia tanpa didukung dokumen yang semestinya.

"Bahkan kami telah menetapkan 7 WNA yang melanggar itu masuk dalam datar cegah tangkal masuk Indonesia atau blacklist," kata Barlian kepada Tribunjatim.com.

Terkait Timpora, Barlian berharap agar pengawasan melekat kepada semua warga. Sebab ujung Tombak utama adalah waega kampung. Mereka yang tahu persis pergerakan warga di jenjang RT. (Faiq/TribunJatim.com).

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved