Latihan Terakhir Tim Honda DBL Indonesia All Star 2018 di Amerika Serikat Hanya Dua Jam Tapi Efektif

Latihan Terakhir Tim Honda DBL Indonesia All Star 2018 di Amerika Serikat Hanya Dua Jam Tapi Efektif.

Latihan Terakhir Tim Honda DBL Indonesia All Star 2018 di Amerika Serikat Hanya Dua Jam Tapi Efektif
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Center tim putri Honda DBL Indonesia All-Star 2018 dari SMAN 28 Jakarta, Sophia Rebecca Adventa (kanan) mengaku mendapat banyak ilmu dan pengalaman selama mendapat pelatihan di Amerika Serikat. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tim Honda DBL Indonesia All Star 2018 akhirnya menyelesaikan Advance training mereka di Amerika Serikat bersama Jordan Lawley, pelatih basket para pemain (dan legenda) NBA.

Bertempat di Asics Sports Performance Center, Irvin, California, AS, Senin, (24/2/2019) waktu California.

Latihan sore itu berlangsung singkat. Hanya dua jam.

Erlita - Erlina, Saudara Kembar yang Disorot dalam Junior DBL East Java Series 2018-2019

Pertama Kali, Tim Honda DBL All Star 2018 Akan Mengikuti Turnamen Nasional di Amerika Serikat

Meski demikian, latihan tetap berlangsung efektif. Sebab, NBA Skills Trainer itu kerap membuat tantangan seru yang berhubungan dengan teknik tertentu.

Sehingga, para pemain All-Star dapat mencernanya lebih mudah.

Victoria Dassmer, pemain All-Star asal Nation Star Academy Surabaya, mengaku puas dengan latihan yang diberikan oleh Jordan Lawley tersebut.

Tim Putra dan Putri Honda DBL All Star 2018 Sapu Bersih Laga Uji Coba Camp Kedua

“Latihannya kelihatan simple, tapi ternyata bikin capek. Untungnya seru banget. Latihan di sini yang jadi favoritku.

Karena dari dua pelatihan sebelumnya kan kita memang terus di drill dengan fundamental basket. Nah, yang di sini itu kayak melengkapi. Makanya materinya juga lebih variatif,” kata Victoria, berdasarkan rilis yang diterima pada Selasa (26/2/2019).

Pasalnya, latihan tersebut, diadakan memang untuk melengkapi dua latihan sebelumnya yang sudah mereka lakukan selama di AS.

Selanjutnya, oleh Jordan Lawley, seluruh hasil latihan itu dijahit dan dikembangkan ke tingkat yang lebih aplikatif. Supaya tetap saling berhubungan.

Pelatihan dari pelatih sekelas Jordan Lawley memang begitu spesial.

Selain karena materinya yang memang bagus, dia pun melatih tim para bintang itu dengan pesonanya: teriakan apresiatif, senyum charming, komunikasi yang simpel, dan tantangan seru. Tidak ada kesan menekan. Apalagi menyeramkan.

“Begini, saya mempunyai kewajiban untuk membuat pemain yang saya latih paham dengan semua materi yang diberikan. Nah cara terbaik agar mereka bisa paham adalah dengan membuat mereka merasa nyaman. Jadi, saya harus interaktif,” kata pelatih personal legenda NBA Steve Nash itu.

Penulis: Hefty Suud
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved