Dinkes Tulungagung Pinjam ULV Untuk Membasmi Nyamuk DBD

Hingga 4 maret 2019, jumlah pasien demam berdarah dengue (DBD) di Tulungagung sebanyak 464 orang.

Dinkes Tulungagung Pinjam ULV Untuk Membasmi Nyamuk DBD
david yohanes/surya
Mesin ULV tengah menyemprotkan insektisida di sepanjang jalan Desa/Kecamatan Campurdarat, yang menjadi salah satu desa dengan penularan DBD yang tinggi di Tulungagung. 

 TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Hingga 4 maret 2019, jumlah pasien demam berdarah dengue (DBD) di Tulungagung sebanyak 464 orang.

Dinas kesehatan (Dinkes) kewalahan untuk melakukan pengasapan (fogging) dengan mesin lama.

Mesin itu dinilai mempunyai kemampuan yang terbatas sehingga kurang maksimal membasmi nyamuk. Karena itu Dinkes Tulungagung meminjam alat penyemprot yang lebih canggih dari Dinkes Provinsi Jawa Timur. Nama alat itu adalah ultra low volume (ULV).

Alat ini menyemburkan insektisida berupa kabut tipis, dan mampu menjangkau 50 meter. Karena jangkauannya yang luas, ULV dibawa dengan mobil pikap. Sepanjang perjalanan di wilayah endemi nyamuk aedes aegypti, ULV terus menyemprotkan kabut insektisida.

Wilayah yang disemprot pada Senin (4/3/2019) adalah Desa/Kecamatan Campurdarat. Desa ini dipilih karena ada 6 kasus DBD, satu di antaranya meninggal dunia.

“Harga alatnya mencapai Rp 500 juta. Kami tidak punya, makanya pinjam ke Dinkes Provinsi,” terang Kasi P2M Dinkes Tulungagung, Didik Eka kepada Tribunjatim.com.

Dinkes Surabaya Gunakan ULV, Bukan Fogging Untuk Antisipasi Penyakit DBD

Penampakan Kamar Hotel Westin Diduga Venue Pernikahan SyahReino Dibocorkan Kerabat, Tampak Mewah

Hotman Paris Bacakan Chat Pribadi Syahrini Minta Maaf, Terungkap Alasan Tak Diundang ke Pernikahan

Selain menjangkau lebih luas, alat ini juga lebih efektif dan lebih murah. Sebagai gambaran, alat fogging biasa butuh Rp 1.500.000 untuk radius 200 meter. Sementara untuk menjangkau seluruh Desa Campurdarat, ULV membutuhkan biaya Rp 2.000.000.

“Kami tinggal menambah Rp 500.000 dari anggaran yang ada, seluruh desa sudah terjangkau. Kalau dihitung jauh lebih murah,” sambung Didik kepada Tribunjatim.com.

Rencananya Dinkes Tulungagung akan meminjam ULV ini untuk satu bulan ke depan. Salah satu pertimbangannya, angka DBD Tulungagung sangat tinggi. Bahkan angka penularannya nomor dua di Jawa Timur.

Pada bulan Januari lalu, ada 257 pasien, tiga di antaranya meninggal dunia. Bulan Februari menurun menjadi 222 pasien, namun jumlah kematian meningkat enam orang. Sayangnya meski dinilai efektif, masyarakat justru tidak puas dengan ULV.

Halaman
12
Penulis: David Yohanes
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved