Temuan Situs Kuno di Malang, Memakai Bahan Batu Gosok, Diduga dari Era Pra Kerajaan Majapahit

Temuan Situs Kuno di Malang, Memakai Bahan Batu Gosok, Diduga dari Era Pra Kerajaan Majapahit.

Temuan Situs Kuno di Malang, Memakai Bahan Batu Gosok, Diduga dari Era Pra Kerajaan Majapahit
TRIBUNJATIM.COM/AMINATUS SOFYA
Penemuan situs purbakala di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Proyek pembangunan jalan tol ternyata banyak berdiri di atas situs purbakala peninggalan peradaban masa lalu.

Sebelum situs purbakala di kawasan pembangunan tol Pandaan-Malang, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim) terlebih dulu menemukan situs purbakala di ruas tol Madiun-Ngawi tepatnya di Desa Saradan.

Entas Kemiskinan di Malang, Pemerintah Pusat Beri 261.450 Ekor Ayam Pada Ribuan Rumah Tangga Miskin

Digerebek di Rumahnya, Polisi Sita 27 Poket Sabu dari Tangan Pengedar Narkoba Asal Kota Malang

"Di Saradan itu ditemukan banyak struktur bata dan kolam kecil. Kemudian kami lakukan ekskavasi," kata Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho, Selasa (12/3/2019).

Selain itu, di ruas tol Gempol-Pandaan tepatnya di Desa Beji, Pasuruan juga ditemukan situs purbakala berupa petirtaan yang kemudian disebut Situs Beji.

Diduga Konsleting, Toko Sepeda di Lawang Malang Hangus Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp 1,5 Miliar

Usai ditemukan, BPCB Jatim dan Jasa Marga Pandaan-Malang menyepakati membuat flyover sebagai upaya penyelamatan.

"Kalau di Beji itu sekira tahun 2012," kata dia.

Wicaksono menjelaskan situs yang kini ditemukan di Desa Sekarpuro (ruas tol Pandaan-Malang) Kabupaten Malang itu, masih diteliti untuk mencari tahu bentuk dan pada era apa bangunan tersebut dibangun.

Jika melihat teknik pemasangan batu-bata, bangunan tersebut dibangun menggunakan batu gosok.

Sedangkan dari ukuran, batu-bata yang digunakan lebih besar dari situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan di Trowulan, Mojokerto.

"Bisa jadi pada era pra Kerajaan Majapahit," ucapnya.

Sebelumnya, Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengaku prihatin dengan pembangunan Tol Pandaan-Malang yang tidak melalui analisa dampak lingkungan (amdal) sosial budaya.

Padahal kata dia, Tol Pandaan-Malang melalui daerah yang diduga banyak terdapat kota kuno.

"Sejak tiga tahun lalu saya merasa prihatin karena proyek Tol Pandaan-Malang tidak melalui amdal sosial budaya," kata Dwi, Rabu (6/3/2019).

Penulis: Aminatus Sofya
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved