Rumah Politik Jatim

Caleg PKB Fandi Utomo Ungkap Perbedaan Pemilu 2014 dan Pemilu 2019, Singgung Masalah Demokrasi

Fandi Utomo mengungkapkan, Pemilu 2019 ini memiliki beberapa tujuan secara spesifik demi kepentingan demokrasi Indonesia.

Caleg PKB Fandi Utomo Ungkap Perbedaan Pemilu 2014 dan Pemilu 2019, Singgung Masalah Demokrasi
ISTIMEWA/TRIBUN JATIM
Caleg DPR RI asal PKB untuk Dapil Jatim 1 Surabaya-Sidoarjo dengan nomor urut 3 Ir. Fandi Utomo 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Caleg DPR RI asal PKB untuk Dapil Jatim 1 Surabaya-Sidoarjo dengan nomor urut 3 Ir Fandi Utomo mengungkapkan, Pemilu 2019 ini memiliki beberapa tujuan secara spesifik demi kepentingan demokrasi Indonesia.

Sebagai bagian dari Tim Perumus UU no 7 tahun 2017 tentang Pemilu, Fandi Utomo mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga hal penting yang berupaya dijawab melalui Pemilu 2019.

"Ada tiga isu besar yang berusaha dijawab dan ditemukan solusinya melalui Pemilu 2019 ini.

Apa saja? Pertama, Pemilu 2019 ini diharapkan mampu menyelesaikan isu klasik korupsi. Kedua, Pemilu 2019 juga diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan disintegrasi bangsa," ujar caleg PKB tersebut, Jumat (15/3/2019). 

Fandi Utomo Ajak Masyarakat Industri Sidoarjo Dukung Program Jokowi-KH Maruf Amin

Asosiasi Pengusaha Indonesia Sidoarjo Siap Menangkan Fandi Utomo PKB

Lebih lanjut, mantan Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini mengungkapkan jika sistem pemerintahan Presidensiil yang dianut oleh Indonesia juga diharapkan bisa menjadi lebih kuat di Pemilu 2019 ini.

"Ada dua tujuan pula terkait penguatan sistem Presidensiil ini. Pertama, penguatan posisi Presiden di Parlemen. Kedua, sistem multipartai yang kompleks saat ini bisa menjadi lebih sederhana," jelas Fandi Utomo.

Menurutnya sistem multipartai yang kompleks saat ini justru membuka ruang-ruang untuk korupsi karena biaya politik yang sangat tinggi.

"Dengan sistem Pemilu 2019, diharapkan masalah-masalah ini bisa diurai," pungkas mantan Dosen ITS Surabaya ini.

Sebagai informasi, di Pemilu 2019 ini sistem penghitungan kursi di Parlemen menjadi sedikit berbeda. Perbedaan pertama adalah Parliamentary Threshold yang sebelumnya hanya 3.5 persen menjadi 4 persen.

Relawan Buruh KSBSI Solid Menangkan Jokowi-Maruf Amin dan Fandi Utomo PKB

Gelombang Dukungan RW-RW Surabaya Mantapkan Kemenangan KH Maruf Amin dan Fandi Utomo PKB

Selanjutnya, kini sistem penghitungan kursi Parlemen menggunakan Sainte Lague Murni dengan pembagian bilangan ganjil 1, 3, 5, 7 dan seterusnya.

Jika partai sudah dapatkan kursi pertama, untuk pembagian berikutnya partai tersebut akan dibagi 3.

Dalam proses Pemilu 2019 nantinya akan ada lima kotak suara yang akan digunakan dalam pemilihan. Lima kotak suara itu yakni kota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, DPD serta terakhir adalah kotak suara Presiden dan Wakil Presiden.

Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved