Rumah Politik Jatim

Mantan Komandan Korps Marinir Komentari Indonesia Pasca Reformasi dan Ungkap Harapan di Pemilu 2019

Letjen TNI (Purn) Suharto berharap Pilpres 2019 bisa menemukan sosok pemimpin yang bisa menyelesaikan ancaman kedaulatan negara.

Mantan Komandan Korps Marinir Komentari Indonesia Pasca Reformasi dan Ungkap Harapan di Pemilu 2019
ISTIMEWA
Diskusi publik bertajuk ‘Perubahan 2019 untuk Pemulihan Kedaulatan dan Keutuhan NKRI’ yang digelar Pengurus Besar Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah (PB PPKN), Sabtu (16/3/2019) di Graha Astranawa, Surabaya. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Mantan Komandan Korps Marinir, Letjen TNI (Purn) Suharto berharap Pilpres 2019 bisa menjadi momentum untuk menemukan sosok pemimpin yang bisa menyelesaikan ancaman kedaulatan negara.

Karena saat menurut Suharto, saat ini Indonesia mendapat ancaman asing yang satu di antara indikasinya adalah adanya 3 juta warga asing yang masuk ke Indonesia.

Hal ini diungkapkan Suharto dalam diskusi publik bertajuk ‘Perubahan 2019 untuk Pemulihan Kedaulatan dan Keutuhan NKRI’ yang digelar Pengurus Besar Pergerakan Penganut  Khitthah Nahdliyah (PB PPKN), Sabtu (16/3/2019) di Graha Astranawa, Surabaya.

Menang Pilpres, Prabowo Liburkan Sekolah Umum dan Kampus Selama Ramadhan Sebulan Penuh

“Apalagi rata- rata usia mereka (WNA) yang masuk di atas 18 tahun. Artinya mereka telah mengikuti Wamil (Wajib Militer). Ini bahaya,” tegasnya.

Kekhawatiran tersebut, lanjut Suharto juga bertambah setelah masuknya sejumlah senjata ke negara ini.

Karena itu, kata Suharto, bangsa ini harus waspada, jika tidak ingin lumat. Dan peran presiden sangat penting untuk menyelesaikan masalah ini.

Dalam kesempatan yang sama, Suko Sudarso (Sukarnois, aktivis GMNI 1966) mengatakan, nasib bangsa Indonesia tidak lebih baik, pasca reformasi, bahkan semakin amburadul.

Hal ini, menurut Suko Sudarso karena Amandemen UUD 1945 ditambah ‘gagal pahamnya’ para pemimpin nasional, membuat Indonesia semakin terpuruk.

“Tidak sekadar ganti orang, tetapi juga harus paham bagaimana menata bangsa ini. Kami yakin Prabowo lebih paham bagaimana mengembalikan jati diri bangsa ini,” demikian disampaikan.

Bibir Prabowo Tersungging Tahu Ucapan Jokowi di Debat Capres 2014, Tak Setuju dengan Penasihatnya

Menurut Suko, ada tiga hal penting untuk mengawal perubahan tersebut. Pertama adalah kembali ke UUD 1945 (yang asli), di mana saat ini UUD 945 yang asli sudah diobrak-obrik (amandemen) oleh para politisi.

“Dan tidak cukup itu. Kedua, harus ada reformasi agraria, di sini kita butuh pemimpin yang paham, karena ini bukan sekedar bagi-bagi sertifikat. Ketiga, menerapkan TRISAKTI yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam sosial budaya,” tegasnya.

Sementara itu, diskusi ini diawali dengan pembacaan draft maklumat yang disampaikan Drs Choirul Anam (Cak Anam), dihadiri pada kiai dan sejumlah elemen masyarakat.

Tampak Letjend Marinir (Purn) Suharto, H A  Mustahid Astari, KH Suyuthi Thoba Banyuwangi, KH Nur Maemon Sumenep, H Nurhadi ST,  serta perwakilan dari Muhammadiyah, dan tokoh-tokoh nasionalis dari GMNI.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved