Ferry Sugeng, Pemilik UMKM Alam Batik Pasuruan, Jual Batik Rp 250 Juta Hingga Eropa

budaya Nusantara, batik di era yang serba instan ini bukan hal yang mudah. Ferry Sugeng Santoso, pemilik UMKM Alam Batik asal Pasuruan mengakui hal

Ferry Sugeng, Pemilik UMKM Alam Batik Pasuruan, Jual Batik Rp 250 Juta Hingga Eropa
SURYA/PIPIT MAULIDIYA
Ferry Sugeng Santoso saat menunjukkan batik Kasampurnan seharga Rp 250 juta 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Menjadi pengerajin kain tradisional warisan budaya Nusantara, batik di era yang serba instan ini bukan hal yang mudah. Ferry Sugeng Santoso, pemilik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Alam Batik asal Pasuruan mengakui hal itu.

Sejak menjalankan usahanya Alam Batik 9 tahun lalu, menurut Ferry hal terpenting menjalankan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah membangun jejaring.

"Semuanya dari nol. Saya bangun jaringan sejak tahun 2005 hingga 2010, sebelum usaha ini mulai," kata putra pemilik usaha batik Dinar Agung yang sudah terkenal itu kepada Tribunjatim.com, Rabu (27/3/2019)

Pria kelahiran Pasuruan, 13 April 1980 itu menceritakan tumbuh di lingkungan pengerajin batik. Kedua orangtuanya adalah pengerajin batik yang juga sudah besar dan terkenal.

Namun ketertarikannya terhadap batik, tidak muncul begitu saja. Sebelum mencintai baik seperti sekarang ini, menurut Ferry menjadi pengerajin batik adalah hal yang tak bisa mendatangkan uang.

"Bayangkan saja, batik dikerjakan satu minggu bahkan lebih. Nah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak dan istri mereka mau makan apa? Di situ saya sama sekali tidak tertarik menjalankan usaha batik," kata lulusan SMA pesantren itu kepada Tribunjatim.com.

Tapi semuanya berubah ketika Ferry harus menjadi perwakilan Dinar Agung, usaha milik orangtuanya pada sebuah acara pelatihan membatik yang berlangsung di Jogja tahun 2006.

Kuasa Hukum Nyatakan Kondisi Ahmad Dhani Siap Jalani Sidang di PN Surabaya

Gubernur Jatim Khofifah Ingatkan Pentingnya Peran Media Mainstream di Tengah Era Post Truth

Gadis ini Dulu Dibully Karena Kulitnya Dipenuhi Bercak Putih, Hidupnya Berubah Drastis karena 1 Hal!

Syarat utama menjadi peserta pelatihan adalah bisa membatik, sedangkan Ferry saat itu tidak bisa sama sekali. Namun dia tetap menjadi perwakilan Dinar Agung, karena sudah membawa undangan resmi.

Selama 10 hari mengikuti pelatihan, pria berpenampilan nyentrik ini pun pulang dengan membawa hasil batiknya sendiri.

Dari sana, Ferry perlahan mulai mencintai batik, yang tercatat sebagai warisan budaya non-benda dari Indonesia oleh UNESCO itu.

Halaman
1234
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved