Tidak Ada Sekolah Difabel di Desanya, Ibu Asal Gresik Ini Dirikan Sekolah Sendiri

seorang perempuan asal Desa Madumulyorejo, Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik, Jawa Timur menggagas sekolah insklusi di desanya.

Tidak Ada Sekolah Difabel di Desanya, Ibu Asal Gresik Ini Dirikan Sekolah Sendiri
Willy Abraham/Tribunjatim
Launching Peresmian sekolah inklusi untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di Desa Madumulyorejo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik 

TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Tidak adanya tempat belajar untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di Desanya bahkan di Kecamatannya, membuat Sufiah, seorang perempuan asal Desa Madumulyorejo, Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik, Jawa Timur menggagas sekolah insklusi di desanya.

Ibu satu anak ini memberi nama sanggar sekolah insklusi di Yayasan Al-Ikhlas. Semua anak berkebutuhan khusus diharapkan tetap mengenyam pendidikan. Ketua sanggar sekolah insklusi, Sufiah mengatakan jika anak-anak yang berkebutuhan khusus mempunyai keistimewaan dan keahlian jika terus diasah serta adanya pendampingan.

Anak-anak Difabel yang berada di daerah masih bisa sekolah bersama layaknya anak sekolah, bisa therapi, bisa belajar dan dilakukan bersama-sama di dalam kelas. Menjadi satu wadah untuk tetap semangat sekolah.

“Cacat fisik, tuna Netra, tuna rungu, tuna wicara, down syndrome, cerebral palsy, dan slow learner (lambat belajar) pada anak masih bisa diatasi dan diterapi,” ujarnya.

Akses pendidikan untuk anak-anak difabel di wilayah Gresik utara belum sepenuhnya merata terutama di wilayah pedesaan. Selain itu pendampingan kepada mereka di wilayah desa adalah bentuk kepedulian.

Karena selama ini, mereka harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk mendapatkan pendidikan. Sekolah difabel terdekat berada di wilayah Wilayah Sidayu.

Sosok Mahasiswa Indonesia dalam Proyek Apollo NASA, Berkatnya Neil Armstrong Dapat Mendarat di Bulan

Seorang Wanita Digunduli dan Dilecehkan Suaminya Sendiri di Depan Tamu Pesta

Kampanye Terbuka Jokowi dan Prabowo di Jatim, Hadirnya Kepala Daerah Bawa Bandwagon Effect

"Tidak hanya di desa kami tapi desa tetangga juga banyak yang ikut sekolah ke kita," terangnya.

Para relawan pendamping merupakan relawan serta mahasiswa difabel dari Universitas terkemuka di Indonesia.

Pendirian sekolah ini juga mendapat dukungan dari Pemdes Madumulyorejo, UPT, dan muspika kecamatan Dukun. Meski hanya bertempat di kediamannya, tetapi tak menyurutkan semangat belajar seperti di sekolah pada umumnya.

"Ini yang kami harapkan bantuan dari pihak yang terkait sebagai dukungan untuk penyelenggaraan sanggar sekolah bagi anak yang berkebutuhan khusus ini," imbuhya.

Terpisah, Kepala Desa Madumulyorejo Matrozim menegaskan pihaknya sangat mendukung adanya sanggar khusus anak divabel.

Dia berharap, anak-anak yang berkebutuhan khusus mendapat perhatian lebih. Dan mereka bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

"Di dalam hati anak-anak berkebutuhan khusus pasti ingin normal seperti teman seusianya," tutupnya. (wil/Tribunjatim.com)

Penulis: Willy Abraham
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved