Sedotan Bambu Dongko Trenggalek Tembus Pasar Eropa dan Singapura

perempuan menyetor sedotan bambu ke rumah Agus Supriyanto (35), di Desa Karang Tengah RT 26 RW 7, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.

Sedotan Bambu Dongko Trenggalek Tembus Pasar Eropa dan Singapura
david yohanes/surya
Agus Supriyanto (35) bersama karyawannya tengah menata sedotan bambu yang baru selesai diproduksi. 

 TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Sejumlah perempuan menyetor sedotan bambu ke rumah Agus Supriyanto (35), di Desa Karang Tengah RT 26 RW 7, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Tidak lama kemudian ribuan sedotan bambu itu dikemas untuk dikirim.

Bukan main-main, sedotan produk Dongko ini dikirim ke Singapura dan Eropa. Kesadaraan global untuk menghentikan penggunaan sedotan plastik mendatangkan peluang bagi Agus, yang sudah lama menekuni usaha kerajinan bambu. Bahkan Agus sudah menandatangani nota kesepahaman, untuk mamasok sodotan bambu ke Eropa.

"Untuk sampel saya sudah kirim satu juta barang ke Eropa. Ke depan jumlahnya mencapai 50 juta batang," ungkap Agus kepada Tribunjatim.com.

Sementara untuk Singapura, ada pedagang yang memesan sampel sebanyak 100.000 batang. Jika tidak ada perubahan, Agus juga akan memasok jutaan batang. Sedangkan untuk pasar lokal, Agus mengirim ke Bali rata-rata 10.000 batang per bulan.

Menurutnya, peluang sedotan bambu ini sangat terbuka. Apalagi saingan terberat, Tiongkok tengah perang dagang dengan Amerika.

"Ke depan permintaan sedotan bambu ini akan semakin besar. Karena kesadaran dunia untuk menghapus sedotan plastik semakin meluas," sambung Agus kepada Tribunjatim.com.

Sidang Tuntutan Ditunda, Kuasa Hukum Ahmad Dhani: ‘Semoga Jaksa Benar-benar Objektif’

Merasa Dihalangi, Ahmad Dhani Memberontak dan Bersitegang dengan Jaksa Pengawal Tahanan

7 Keistimewaan Malam Lailatul Qadar di Bulan Ramadan, Disebut Lebih Baik dari 1000 Bulan

VIDEO Adegan Dewasa Jatuh ke Tangan Istri, Terbongkarlah Perselingkuhan 2 Pejabat Antarkota di Jatim

Agus sebenarnya pengusaha kerajinan bambu yang membuat 300 jenis kerajinan. Lima tahun lalu ia sudah memperkenalkan sedotan bambu. Namun jumlahnya masih terbatas.

Saat itu penjualan hanya sebatas ke Bali, Inggris, Surabaya dan Malaysia. Namun setahun terakhir, saat gerakan penghapusan sedotan plastik menguat, permintaan sedotan bambu ikut melonjak. Untuk memenuhi bahan baku, Agus harus menjalin kerja sama dengan para petani di Tulungagung dan Lumajang.

"Bahan bakunya dari bambu uluh yang selama ini dianggap hama. Makanya jumlahnya sedikit dan sulit dicari," tutur Agus.

Ukuran sedotan untuk ekspor ini punya diameter lubang 7 hingga 1,2 milimeter. Sedangkan panjangnya 20 sentimeter, 21 sentimeter dan 25 sentimeter. Untuk mencegah kesulitan bahan baku ke depan, Agus merintis pembibitan bambu uluh.

Dia juga menyadarkan masyarakat, agar tidak mematikan rumpun bambu uluh. Sebab bambu yang dianggap hama ini, ternyata punya nilai ekonomis tinggi. Agus siap membeli dan mengolahnya menjadi sedotan untuk pasar ekspor.

Ditawari Memegang Pabrik
Untuk memroduksi sedotan bambu ini, Agus mempekerjakan lebih dari 300 orang di Dongko dan sekitarnya. Selain itu ada 200 orang yang ada di Lumajang. Belum lagi yang wilayah Tulungagung.

Karena reputasinya, Agus pernah ditawari untuk memegang perusahaan pengolahan bambu di Jawa Barat. Jika menerima penawaran itu, Agus akan mendapatkan berbagai fasilitas, mulai perumahan hingga gaji besar. Namun Agus menolak tawaran itu.

"Kalau saya terima tawaran itu, bagaimana nasib 300 orang warga Dongko yang memroduksi kerajinan selama ini? Belum lagi para pemasok bahan bakunya," ucap Agus.

Bahkan Agus juga menolak menggunakan mesin-mesin untuk memroduksi. Mesin yang digunakan sangat terbatas, untuk keperluan khusus. Selebihnya diserahkan ke warga untuk diproduksi secara manual. (David Yohanes/TribunJatim.com).

Penulis: David Yohanes
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved