Balai Arkeologi Yogyakarta Sebut Rekonstruksi Situs Sekaran Malang Sulit Dilakukan, Mengapa?

Balai Arkeologi Yogyakarta menyebut rekonstruksi Situs Sekaran sulit dilakukan lantaran bangunan situs hanya tersisa 20 persen.

Balai Arkeologi Yogyakarta Sebut Rekonstruksi Situs Sekaran Malang Sulit Dilakukan, Mengapa?
SURYA/RIFKY EDGAR
Struktur bangunan yang ada di Situs Sekaran, Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang kini mulai nampak setelah dilakukannya proses ekskavasi oleh Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, Senin (18/3). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aminatus Sofya

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Balai Arkeologi Yogyakarta menyebut rekonstruksi Situs Sekaran sulit dilakukan lantaran bangunan situs hanya tersisa 20 persen.

Sebelumnya, Balai Arkeologi Yogyakarta telah melakukan penelitian penjajagan di Situs Sekaran selama lima hari mulai Rabu (9/4/2019) hingga Senin (15/4/2019).

"Kemungkinan Situs Sekaran ini hanya tersisa 20 persen saja dari keseluruhannya," tutur Ketua Tim Penelitian Penjajagan Situs Sekaran Hery Priswanto kepada TribunJatim.com, Senin (15/4/2019).

Tak Sengaja Temukan Pistol di Bawah Bantal, Bocah Empat Tahun Ini Menembak Kepalanya Sendiri

Cemburu Membuat Tukang Ojek Ini Bunuh Anak Tirinya yang Sedang Hamil, Setelah Itu Minta Dihukum Mati

Driver Ojol Dinilai Kurang Ganteng, Tiga Gadis Ini Batalkan Pesanannya, Langsung Jadi Buronan

Ia menambahkan hingga saat ini, Balai Arkeologi Yogyakarta belum bisa memperkirakan bentuk bangunan situs yang sebenarnya.

Sebab struktur bangunan yang ditemukan di lokasi, hanya berupa pondasi, bangunan berundak yang diduga sebuah paduraksa.

"Tidak bisa kami kira-kira seperti apa (bangunan atas)," ucap dia.

Menurut Hery, kerusakan Situs Sekaran tidak disebabkan oleh bencana alam. Rusaknya situs purbakala yang berada di kawasan pembangunan Tol Pandaan-Malang itu karena aktivitas manusia.

"Ada fase di mana bangunan di Situs Sekaran dirusak oleh manusia untuk kepentingan lain seperti menjadikan batu-bata untuk semen dan yang lain," katanya.

Terkait periodesasi bangunan situs, Balai Arkeologi Yogyakarta juga belum dapat memastikan lantaran kondisi situs yang telah hancur, "Terganggu, jadi belum bisa kami ambil sampling untuk dilakukan uji karbon," pungkasnya.

Sebelumnya, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim telah melakukan ekskavasi penyelamatan di Situs Sekaran.

Kesimpulan sementara diambil bahwa bangunan yang ada di Situs Sekaran adalah komplek peribadatan era Kerajaan Singasari yang menghadap ke Gunung Semeru.

Penulis: Aminatus Sofya
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved