Santri-santri di Surabaya ini Pilih Golput, Ini Alasannya

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya menggagas diskusi bertajuk 'Suara Santri untuk Politik Alternatif'.

Santri-santri di Surabaya ini Pilih Golput, Ini Alasannya
sofyan arif candra /Tribunjatim
Suasana diskusi bertajuk 'Suara Santri untuk Politik Alternatif' yang diselenggarakan di Sekretariat Kontras Surabaya di Jalan Hamzah Fansuri, Surabaya, Senin (15/4/2019). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya menggagas diskusi bertajuk 'Suara Santri untuk Politik Alternatif'.

Diskusi tersebut mengambil tempat di Sekretariat Kontras Surabaya di Jalan Hamzah Fansuri, Surabaya, Senin (15/4/2019).

Beberapa keynote speaker yang hadir dalam acara tersebut adalah Muhammad Al-Fayyadl, alumnus Ponpes Ciganjur dan Annuqayah Sumenep, dan Roy Murtadho, aumnus Ponpes Tebuireng Jombang serta Defit Ismail, alumnus PP Darul Mubtadi'in.

"Acara ini untuk menunjukkan bahwa ada juga lo santri yang golput tidak seperti kebanyakan santri yang mungkin ke petahana," kata Fayyadl, saat ditemui usai acara.

Ia mengatakan golput yang ia suarakan bukan sekadar golput tapi karena mempunyai alasan yang kuat.

Salah satu alasannya adalah kedua Capres-Cawapres mempunyai kekuatan oligarki yang berada di belakang mereka.

Reaksi Gibran dan Kaesang Saat Jokowi Jamin Persahabatan dengan Prabowo-Sandi Tak Akan Putus

RSUD Dr Soetomo Masih Periksa Rekam Medis Bayi yang Diduga Tertukar Usai Operasi Caesar

Dua Pelaku Mutilasi Belum Terbukti Lakukan Pembunuhan Berencana Terhadap Guru Honorer Budi

"Jadi kami ragu dengan terpilihnya salah satu dari 2 pasangan ini bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik," kata Gus Fay sapaan akrab Fayyadl.

Ia melanjutkan pada Pilpres tahun ini, tidak ada capres-cawapres yang memiliki keinginan untuk memutus intervensi lembaga kapitalis global (IMF, Bank Dunia, dan WTO) yang mendesakkan agenda-agenda neoliberal (liberalisasi, privatisasi, dan deregulasi) yang merugikan kalangan petani, buruh, kaum miskin desa dan kota.

Sebaliknya, capres-cawapres yang ada terindikasi pro-kebijakan lembaga-lembaga kapitalis global untuk makin meluaskan pengaruhnya di Indonesia.

Halaman
12
Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved