Terungkap, Ternyata Antibiotik Sering Diberikan Tak Sesuai Penyakitnya

Berbagai studi menemukan, sekitar 40-62 persen antibiotik digunakan tidak tepat untuk penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik.

Terungkap, Ternyata Antibiotik Sering Diberikan Tak Sesuai Penyakitnya
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Surya, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Bakteri resisten terjadi akibat penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan penerapan kewaspadaan standar (standard precaution) yang tidak benar di fasilitas pelayanan kesehatan.

Berbagai studi menemukan, sekitar 40-62 persen antibiotik digunakan secara tidak tepat antara Iain untuk penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik.

Bahkan dalam operasi hampir beragam operasi tidak membutuhkan antibiotik.

Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr dr Usman Hadi MD PhD Sp PD-KPTl mengatakan, pada penelitian kualitas penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit di Indonesia ditemukan 80 persen tidak didasarkan pada indikasi dan berdasarkan data penelitian WHO dan KPRA/PPRA tahun 2013 di 6 Rumah Sakit Pendidikan di Indonesia diidentifikasi bakteri penghasil ESBL (Extended-Spectrum BetaLactamase) 40 sampai 50 persen resisten terhadap golongan Cephalosporin generasi 3 dan 4.

Pada awalnya, resistensi terjadi ditingkat rumah sakit, tetapi kemudian juga berkembang di lingkungan masyarakat, khususnya Streptococcus pneumoniae (5P), Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli," ujarnya, Minggu (12/2/2017), usai diskusi ”Kendalikan Penggunaan Antibiotik untuk Mencegah Resistensi Antimikroba” yang diadakan PT Pfizer Indonesia (Pfizer).

Menurut Usman Hadi, penggunaan antibiotik harus di bawah pengawasan dokter dan mengikuti anjuran yang tepat karena pengobatan dengan obat antibiotik harus sesuai kondisi resistensi antimikroba masing-masing pasien.

Untuk itu, pemberian dosis yang tepat dan perlunya kepatuhan penggunaan antibiotik pada terapi pengobatan penyakit infeksi, merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan agar proses penyembuhan penyakit ini tidak menyebabkan resistensi.

"Selain itu, penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang dan beriklim tropis seperti di Indonesia," jelas pria yang juga menjabat sebagai Dokter Spesialis Konsultan Penyakit Tropis dan lnfeksi ini.

Antibiotik merupakan obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik telah memiliki peran penting pada dunia kedokteran, karena telah menyembuhkan banyak kasus infeksi.

“Masalah resistensi antbiotik ini merupakan masalah yang kompleks dan harus diselesaikan bersama, karena bersifat muiti dimensi dan multi faktor serta melibatkan banyak stakeholders. Bukan saja melibatkan pasien atau dokter, tetapi juga melibatkan industri farmasi, industri rumah sakit, kepentingan bisnis dan kesadaran masyarakat,” imbuh Usman Hadi.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved