Inilah Kisah Sopir di Gunung Bromo Belajar Bahasa Asing dan Sejarah BTS

Namanya Kawi. Dia bukan nama gunung, tapi nama sopir atau pengemudi Hartop di kawasan Bromo Tengger Semeru (BTS). Kawi besar di lingkungan suku tengge

Inilah Kisah Sopir di Gunung Bromo Belajar Bahasa Asing dan Sejarah BTS
TribunJatim/ Galih Lintartika
Kawi bersama hartop kesayangannya. 

TRIBUNJATIM.COM, PROBOLINGGO - Namanya Kawi. Dia bukan nama gunung, tapi nama sopir atau pengemudi Hartop di kawasan Bromo Tengger Semeru (BTS). Kawi besar di lingkungan suku tengger.

Pria 58 tahun ini sudah lama menjadi sopir hartop untuk wisatawan dalam atau luar negeri yang berkunjung di kawasan BTS ini. Hingga 2017 ini, Kawi sudah 38 tahun tercatat menjadi sopir hartop ini.

Banyak perjalanan yang mengesankan dialami Kawi. Bapak dua anak ini , menjadikan pekerjaan sebagai sopir hartop sebagai tonggak penghasilan untuk membiayai kebutuhan keluarganya setiap hari.
Bahkan, Kawi banyak belajar dari pekerjaannya ini. Dia bukan lulusan sarjana. Tapi pengetahuannya pun luar biasa. Ia hanya pria desa yang tidak lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) di lingkungannya.

Ia tidak kalah dengan anak muda. Di usiannya sekarang, ia mampu menguasai dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Padahal, ia merupakan putra asli Sukapura.

Kawi belajar secara autodidak dua bahasa itu. Meski besar di tanah Indonesia, bagi masyarakat Sukapura, bahasa Indonesia itu jarang yang bisa.

"Tidak semuanya bisa bahasa Indonesia. Masyarakat di sini, punya bahasa suku tengger sendiri," katanya kepada TribunJatim.com.

Baca: Pengunjung Bromo Lewat Ngadisari Membludak

Dia pun mengakui untuk belajar bahasa Indonesia itu menbutuhkan waktu. Ia sempat kesulitan karena tidak terbiasa menggunakan bahasa indonesia secara baku. Namun, ia berfikir semisal ia tidak belajar bahasa indonesia, akan susah berkomunikasi dengan wisatawan yang menjadi penumpang hartopnya.
"Akhirnya sedikit demi sedikit saya belajar, dan sekarang sudah lancar berbahasa indonesia," akunya kepada TribunJatim.com.

Lambat laun, ia menyadari bahwa BTS ini tak hanya dikunjungi wisatawan domestik. Ia menyadari bahwa BTS juga dikunjungi wisatawan mancanegera. Ia pun juga sempat dibuat kesulitan saat berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara.

"Awalnya saya membawa teman yang pintar berbahasa inggris. Tapi suatu ketika teman saya tidak bisa mendampingi saya. Saya jujur kesulitan dan malu karena tidak bisa menjawab pertanyaan turis itu," paparnya.

Halaman
12
Penulis: Galih Lintartika
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved