Breaking News:

Wisatawan India dan Tiongkok Kagumi Keindahan Bromo, Budaya Serta Sejarah Suku Tengger

Udara dingin menyapa para wisatawan yang berkumpul di lautan pasir , Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, J

surya/Galih Lintartika
MERIAH : Beberapa penampilan kesenian tradisional dari sejumlah daerah tampil di acara Eksotika Bromo, Jumat (7/7/2017). 

TRIBUNJATIM.COM, PROBOLINGGO - Udara dingin menyapa para wisatawan yang berkumpul di lautan pasir , Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jumat (7/7/2017) siang.

Wisatawan yang berasal dari sejumlah daerah baik wisata Indonesia , maupun mancanegera datang untuk menyaksikan pagelaran eksotika bromo dalam menyambut ritual perayaan Yadyana Kasada, Senin (10/7/2017) dinihari.

Dari data yang ada, beberapa wisatawan berasal dari Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Banyuwangi, untuk wisatawan lokal. Untuk wisatawan mancangera berasal dari India, Belanda, Jerman, Australia, Malaysia, dan masih banyak lagi.

Acara ini dimulai sekitar pukul 14.30. Wisatawan langsung duduk di tribun yang sudah disediakan sembari menunggu penampilan kesenian.

Acara ini dibuka dengan penampilan jaranan jetak yang merupakan kesenian khas Probolinggo. Setelah itu, kesenian khas Pamekasan, Musik Daul Sakera menyusul di urutan selanjutnya.
Penampilan kedua ini membuat suasana lebih meriah karena musik ini dibawakan dengan alunan musik dengan tempo cepat. Selanjutnya, giliran kesenian khas Lumajang, Jarinan Slining yang memberikan sambutan kepada wisatawan yang hadir dalam kegiatan.

Bupati Probolinggo P Tantriana Sari, dan sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan sejumlah instansi terkait hadir di tengah acara Eksotika Bromo ini. Acara dilanjutkan dengan pembacaan memori raffles yang diambil dari buku karangan Thomas Raffles yang berjudul The History of Java. Buku ini bercerita tentang masyarakat tengger.
Pembacaan ini dilakukan oleh Wiranto, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

Kepada Surya, Wiranto , mengatakan bahwa buku ini menyimpan sejuta nilai leluhur suku tengger. Ia sangat mengapresiasi buku ini. Bahkan, ia berulang kali membaca buku ini. Menurutnya, buku ini menceritakan tentang budaya suku tengger yang menyatu dengan alam.
"Tidak ada perilaku atau sikap yang merusak alam. Raffles menceritakan dalam buku itu bahwa suku tengger ini bisa menyatu dengan alam dan mencintai sekaligus merawatnya dengan baik," kata P Tantriana Sari usai kegiatan.

Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Tanah Airku. Saat menyanyikan lagu ini, semua wisatawan, dan tamu yang hadir ikut berdiri dan bergandengan tangan sambil bernyanyi bersama. Tampak wisatawan lokal dan mancanegara menjadi satu.

"Saya merinding menyanyikan lagu tanah air di tengah - tengah alam yang sangat luas ini," kata salah satu wisatawan asal Jakarta, Inne Ninda Anandya.

Setelah selesai bernyanyi bersama, acara dilanjutkan dengan penampilan pentas kidung tengger. Penampilan ini menceritakan tentang sejarah, ritual, adat istiadat yang biasa dilakukan suku tengger.

Halaman
1234
Penulis: Galih Lintartika
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved