Buah Tiongkok Banjiri Jatim, Pemprov Larang Hortikultura Impor Masuk via Tanjung Perak

- Kasus penggerebekan gudang wortel dari Tiongkok di Surabaya beberapa hari lalu sejatinya hanya bagian dari puncak gunung es.

Buah Tiongkok Banjiri Jatim, Pemprov Larang Hortikultura Impor Masuk via Tanjung Perak
The Better India
Ilustrasi 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Kasus penggerebekan gudang wortel dari Tiongkok di Surabaya beberapa hari lalu sejatinya hanya bagian dari puncak gunung es.

Fakta lain buar impor dari Tiongkok juga membanjiri Indonesia, termasuk wilayah Jatim. Panelusuran Surya di pasar tradisional, pasar modern, kios dan sentra-sentra buah yang tersebar di Surabaya dan berbagai daerah lain di Jawa Timur, produk hortikultura yang didatangkan dari luar negeri mendominasi.

Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian, buah impor didominasi dari Tiongkok. (lihat grafis) Beberapa pedagang buah di Surabaya menyebut, perbandingan buah impor dan lokal rata-rata di angka 60:40 persen.

“Masih lebih banyak buah impor,” ungkap Amin, seorang pedagang buah di sela kesibukannya kulakan di sentra buah Jalan Tanjungsari, Surabaya, pekan lalu.

Sebagai penjual, pria ini mengaku menjalankan bisnisnya berdasar permintaan konsumen. Ketika banyak permintaan buah impor, dirinya pun memilih kulakan impor untuk memenuhi kebutuhan. Pun sebaliknya, saat buah lokal sedang banyak dicari, dirinya juga berusaha memenuhinya.

Dominasi buah dan sayur impor juga diakui oleh beberapa distributor buah di Surabaya.
“Paling banyak apel. Perbandingannya bisa 10 : 30 dengan jenis buah lain,” ungkap Roy S, pengelola Godong, distributor dan grosir buah di Jalan Ahmad Jais Surabaya.

Selain memasarkan buah impor, perusahaan ini juga menjual buah lokal. Buah impor yang dipasarkan antara lain, apel dari Tiongkok, New Zealand dan Amerika; buah jeruk dari Tiongkok, Australia, Amerika Latin, dan Afrika; buah pir dari Tiongkok: kelengkeng dan durian dari Thailand; dan berbagai buah lain.

“Jeruk sedang tidak ada impor. Karena ada larangan atau pembatasan dari pemerintah. Nanti bulan Oktober baru boleh,” ujar Roy saat ditemui di sela kesibukannya.
Buah impor yang dijualnya bukan semua didatangkan langsung dari negara asal. Beberapa jenis buah, Roy mengaku membeli dari importir lain.

Sedangkan untuk buah lokal, Roy mendatangkan dari beberapa daerah di Jatim. Misalnya semangka, didatangkan dari Banyuwangi, melon dari Ngawi, Blitar dan beberapa daerah lain.

Pedagang yang kulakan di tempat ini juga bukan hanya dari Surabaya, tapi juga dari berbagai daerah di Jawa Timur. Termasuk dari Pasuruan, Probolinggo, Malang, Batu dan berbagai daerah lain. Bahkan, ada juga pedagang dari Tarakan, Kalimantan, yang juga kulakan buah ke tempat ini.

Halaman
123
Penulis: M Taufik
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved