Bintang Toedjoe Ajak Warga Surabaya Kembangkan Jahe Merah

Usai sukses menggelar Lomba Taman Herbal dengan tanaman toga utama temu putih, Bintang Toedjoe bakal mengajak warga Surabaya untuk setingkat lebih ti

Penulis: Fatimatuz Zahroh | Editor: Yoni Iskandar
surya/Fatimatuz Zahroh
Head Marketing PT Bintang Toedjoe Kusdi Mulyana (tiga dari kanan), Kepala DP5A Surabaya Nanis Chairani (dua dari kanan), dan Ketua Dharmawanita Surabaya Iis Hendro Gunawan saat panen raya temu putih secara simbolis di Taman Surya, Sabtu (30/9/2017). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Usai sukses menggelar Lomba Taman Herbal dengan tanaman toga utama temu putih, Bintang Toedjoe bakal mengajak warga Surabaya untuk setingkat lebih tinggi.

Akhir tahun ini akan dimulai dengan pengembangan tanaman toga baru yaitu jahe merah. Jahe merah ini bukan sekedar tanaman obat biasa melainkan bisa menyembuhkan banyak penyakit.

Mulai sakit jantung, gangguan pencernaan, kanker usus hingga mengontrol kadar gula darah. Sampai-sampai jahe merah dijuluki sebagai tanaman obat sapu jagad.

Head Marketing PT Bintang Toedjoe Kusdi Mulyana mengatakan 154 kelurahan di Surabaya akan diajak untuk mengembangkan jahe merah ini.

"Produk hasil tanamannya akan kita manfaatkan untuk masuk ke produk kita untuk obat dari jahe merah," kata Kusdi di sela-sela Karnaval Herbal Bejo di Taman Surya, Sabtu (30/9/2017).

Menurutnya, dengan mengajarkan budidaya jahe merah ini, maka warga Kota Surabaya akan mendapatkan manfaat berlipat. Selain mendapatkan tanaman obat, belajar budi daya pertanian, dan juga mendapatkan manfaat ekonomi.

"Nanti kita juga akan pikirkan untuk budi daya selasih. Sebab ada produk kita untuk pereda panas dalam yang komposisinya dari selasih," ucapnya.

Baca: 20 Kelurahan Surabaya Semarakkan Karnaval Herbal Bejo

Selasih ini juga bisa dijadikan untuk program budidaya di tataran warga Surabaya untuk kemudian ditarik produknya dan dibeli oleh PT Bintang Toedjoe.

Akan tetapi untuk tahun ini akan diprioritaskan untuk pembangan tanaman obat jahe merah lebih dahulu, baru kemudian selasih.

Terkait pengwmbangan tanaman temu putih, menurutnya, warga Surabaya sudah memiliki semangat yang tinggi. Namun sayangnya masih belum masuk ke skala ekonomi.

"Dari evaluasinya, ternyata hasil produksinya dalam 14 bulan masih Rp 1 juta. Kalau dibagi waktu 14 bulan, tentu nilainya masih sedikit, maka kita akan coba kembangkan lagi," kata Kasdi.

Salah satunya dengan melihat potensi kawasan mana yang berhasil melakukan pengembangan temu putih dan digelontor lebih banyak bibit. Sehingga hasil produk yang dibeli dari warga juga bisa lebih tinggi.

"Karena kemarin memang bibit yang diberikan baru 25 polibag. Nanti kalau sudah ada yang bagus bisa kembangkan lahan dengan 400 polibag sehingga bisa masuk skala ekonomi," kata Kasdi.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved