Disnak Lamongan Nikahkan Usaha Tersapujagat

Sektor pertanian masih menjadi penyumbang tertinggi dalam perekonomian di Kabupaten Lamongan.

Disnak Lamongan Nikahkan  Usaha Tersapujagat
SURYA/SANY EKA PUTRI
Danramil Batu, Camat Junrejo, Kepala Dinas Pertanian, dan petani saat melakukan pemberantasan hama di Dusun Caru, Desa Pendem, Kota Batu, Rabu (28/2/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Sektor pertanian masih menjadi penyumbang tertinggi dalam perekonomian di Kabupaten Lamongan.

Komoditi jagung, misalnya juga menjadi kebanggaan yang mampu memoncerkan nama Lamongan karena dengan sistim tanam modern menghasilkan produksi yang luar biasa.

Hal itu terlihat dari sumbangan sektor ini dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada 2017. Termasuk juga, kontribusi dari sektor peternakan.

Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya para petani dan peternak, Pemkab Lamongan membuat program terobosan Ternak Sapi Usaha Jagung Meningkat(Tersapujagat).

Baca: Wakil Ketua MPR: Pelayanan Publik Banyuwangi harus Jadi Rukukan Daerah Lain

Pemkab Lamongan melalui program Tersapujagat ini "mengawinkan’’ budidaya jagung dengan ternak sapi.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan(Disnakwan) Kabupaten Lamongan , Sukriyah, Sabtu (31/3) mengatakan program Tersapujagat terinspirasi dari banyaknya masyarakat yang berternak sapi serta tingginya gairah masyarakat Lamongan untuk menanam jagung.

‘’Nah, semangat masyarakat menanam jagung ini harus ditangkap oleh pemerintah, karena bagaimanapun semangat ini harus terarah,’’ katanya.

Pemerintah Kabupaten Lamongan terus melakukan berbagai kajian supaya potensi jagung tersebut bisa memberikan efek ganda ke sektor lainnya, terutama pada sektor peternakan.

Salah satunya adalah dengan memanfaatkan limbah jagung untuk memenuhi kebutuhan makanan ternak sapi.

Baca: Nekat Curi Hp dan Motor Sahabatnya, Pria Ini Diciduk Polisi di Bangkalan

Di Lamongan itu setiap petani pasti peternak. Tidak ada peternak yang tidak jadi petani. Pihaknya hanya berpikiran bagaimana sapi yang ada bisa diberikan makan dari limbah jagung yang ada, yang selama ini tidak dimanfaatkan, karena terbuang sia-sia.

Salah satu tantangan yang dihadapi kemudian dalam melaksanakan program Tersapujagat tersebut yakni bagaimana mengolah limbah jagung tersebut menjadi bahan pakan ternak sapi.

Sementara limbah jagung tersebut sudah tidak lagi segar, sebab jagung baru dipanen setelah pohonnya dalam keadaan kering.

‘Tidak mungkin memanen pada saat masih hijau. Karena jagung Lamongan ini sudah dikenal kualitasnya bagus, karena kering pohon. Dengan limbah yang ada ini kemudian diolah dan produksi supaya bisa konsumsi makanan ternak. Ternyata masyarakat merespon positif dan menyambut baik terobosan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.(Surya/Hanif Manshuri)

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved