Pertamina Ancam Sanksi APMS Sapeken Sumenep, Jika Jual BBM Tanpa Dispenser dan Mahal

Menyikapi mahalnya harga Bahan Bakar Minya (BBM) di kepulauan Sumenep, utamanya di Pulau Sapeken, Kecamatan Sapeken, Sumenep, Madura

Penulis: Moh Rivai | Editor: Yoni Iskandar
surya/Fatkhul Alami
Suasana aktivitas mobil tanki BBM 

 TRIBUNJATIM.COM, SUMENEP - Menyikapi mahalnya harga Bahan Bakar Minya (BBM) di kepulauan Sumenep, utamanya di Pulau Sapeken, Kecamatan Sapeken, Sumenep, Madura, yang diduga karena adanya permainan dari pihak pengelola Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di pulau setempat, mendapat tanggapan serius pihak Pertamina.

Communication & CSR Marketing Operation Region V (MOR V) Pertamina, Rifky Rahman Yusuf mengatakan, dugaan melambungnya harga BBM utamanya jenis Solar kepada masyarakat termasuk kepada nelayan oleh karena adanya dugaan permainan yang dilakukan oleh APMS dan pengepul BBM di kepulauan.

“ Karena ditengara selama ini kapal tangker Pertamina yang mengirim BBM ke kepulauan termasuk tidak masuk ke Tanki APMS, tetapi oleh APMS didistribusikan ke drum-drum milik pengepul dengan harga yang disepakati oleh APMS dan pengepul tersebut,” ujar Rifky Rahman.

Kemudian, lanjut Rifky, pengepul BBM tersebut mendistribusikan lagi kepada para pengecer-pengecer dengan harga diatas harga APMS kepada pengepul.

Baca: Bersama Arumi, Khofifah Sapa 20 Ribu Muslimat Blitar

“Dari harga ke harga itulah, maka pada ujungnya ketika sampai ke konsumen masyarakat langsung, harganya pun naik. Harga solar yang seharusnya hanya Rp 5.550 perliter, bisa dijual di tingkat masyarakat antara Rp 6000 hingha 7000 perliternya. Ini sungguh bentuk permainan dan pelanggaran aturan,” lanjutnya.

Ditambahkan, sesuai aturan, APMS tidak boleh menjual tanpa melalui dispenser. Dan dilarang menjual langsunh dari kapal tanker kepada para pengepul. Apalagi APMS dengan sengaja mengambil keuntungan lebih dengan menaikkan harga yang sudah ditetapkan.

“Karena sejatinya, Pertamina melakukan kerjasama dengan APMS tersebut murni tanpa ada campur tangan pihak luar. Terlebih jika pihak luar tersebut sengaja mengambil keuntungan besar dari harga yang ditetapkan pemerintah. Nah, jika ada pelanggaran yang dilakukan APMS akan langsung kami tindak tegas sesuai dengan aturan yang berlaku,” tegasnya, Sabtu (31/3/2018).

Pertamina sampai turun ke APMS kepulauan karena selama ini di kepulauan kerapkali terjadi kelangkaaan BBM baik jenis Premium ataupun Solar. Dan kendatipun ada beberapa pengecer BBM yang masih menjual BBMnya, harganya pun bisa melambung tinggi, bahkan hingga sampai 2 kali lipatnya.

Baca: Di Pulau Kangean Sumenep, BBM Jenis Premium Sempat Tembus Rp 15.000

“ Kalau musim barat atau angin, harga BBM jenis Premium bisa tembus Rp 15.000 perliter dan Solar bisa Rp 10.000 perliternya. Sehingga masyarakat disini selalu tertekan oleh tidak jelasnya harga BBM,” ujar Hafiluddin, warga Pulau Sapeken, Sumenep, Sabtu (31/3/2018).

Dengan telah ditemukan adanya permainan penjualan BBM di kepulauan, pihaknya berharap sikap tegas dari Pertamina harus diikuti oleh para pemilik APMS dengan mematuhi harga sesuai ketentuan pemerintah.

“Jika masih melanggar, kami warga kepulauan meminta Pertaminan bertindak dan jika perlu dicabut ijinnya, karena telah mensensarakan warga kepulauan,” tandasnya.(riv)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved