Di Balik Keindahan Batik Meru Betiri, Butuh Kesabaran dan Ketelatenan Ekstra

Sebagai jenis batik baru di Kabupaten Jember, batik Meru Betiri yang diproduksi para ibu - ibu Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jember

Di Balik Keindahan Batik Meru Betiri, Butuh Kesabaran dan Ketelatenan Ekstra
(surya/Erwin Wicaksono)
Batik Meru Betiri dan Budidaya semut rangrang produk andalan Desa Wonoasri, binaan The Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Universitas Jember dan Taman Nasional Meru Betiri 

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Sebagai jenis batik baru di Kabupaten Jember, batik Meru Betiri yang diproduksi para ibu - ibu Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jember ini memiliki keunikan tersendiri untuk dikupas lebih mendalam.

Untuk menghasilkan batik Meru Betiri yang sempurna, harus melalui beberapa tahap proses produksi yang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran ekstra.

Bahan baku yang digunakan juga sangat ramah lingkungan, dapat dipastikan batik yang merupakan mitra binaan The Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Universitas Jember dan Taman Nasional Meru Betiri itu, untuk pewarnaan menggunakan bahan - bahan alami dan bebas dari unsur kimia sintetis.

Bahan - bahan yang digunakan adalah ranting tanaman mangrove, kulit kayu pohon jambal dan pohon sengon. Dengan menggunakan bahan alami tersebut meminimalisir pencemaran air sisa pembuatan batik.

Baca: Batik Meru Betiri dan Budidaya Semut Rangrang Cita-cita Warga Wonoasri Jember

"Kita dalam produksi batik Meru Betiri ini memang memakai bahan alami untuk pewarnaan. Ini juga meminimalisir pencemaran dari limbah yang kita hasilkan dari sisa air pewarnaan soalnya pakek bahan alami itu," terang Rudi selaku koordinator pewarnaan dalam produksi batik Meru Betiri.

Tahap pertama dalam proses produksi batik Meru Betiri ini adalah menyiapkan bahan baku untuk pewarnaan yakni ranting tanaman mangrove, kulit kayu jambal dan sengon. Masing - masing bahan tersebut memiliki karakteristik tersendiri.

Untuk ranting kayu mangrove menghasilkan warna merah gelap, kayu jambal menghasilkan warna hitam dan kayu sengon menghasilkan warna hitam kecoklatan.

Kemudian bahan - bahan tersebut dicampur ke dalam bak dengan diisi air untuk merangsang keluarnya warna, setelah warna pekat dari bahan sudah keluar, barulah direbus di sebuah panci besar sampai mendidih.

"Setelah itu dipilih, kita masukkan air kemudian direbus mas sampai mendidih agar warna yang dihasilkan sempurna," tutur Rudi.

Halaman
123
Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved