Breaking News:

Serangan Bom di Surabaya

Pemerintah Daerah Harus Aktif Tangkal Ancaman Terorisme

Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang Najamuddin Khairur Rijal menilai, ancaman terorisme

Penulis: Benni Indo | Editor: Yoni Iskandar
Kompas.com
Tutik, korban tewas serangan bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. 

 TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Najamuddin Khairur Rijal menilai, ancaman terorisme bukan sekadar ancaman fisik seperti bom bunuh diri, tetapi juga ancaman non-fisik seperti penyebaran ideologis ekstremisme dan radikalisme.

Ancaman terorisme seperti fenomena gunung es. Justru yang tidak tampak melibatkan jaringan kompleks dan sulit diurai.

“Karena itu, menghadapi ancaman terorisme tidak bisa semata hanya dengan kekuatan bersenjata, namun juga, dengan pendekatan non-kekuatan bersenjata. Pendekatan counter terrorism ada dua bentuk: hard approach dan soft approach atau power approach dan persuasive approach,” ujar dosen Hubungan Internasional yang menyelesaikan Thesis berjudul Respons Pemerintah Lokal terhadap Ancaman Terorisme Global: Kasus ISIS di Kota Malang.

Diterangkan lelaki asal Sulawesi Selatan itu, hard approach adalah pendekatan berbasis militeristik yang oleh militer untuk menindak pelaku terorisme.

Baca: Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa : Rilis 200 Penceramah Berpotensi Jadi Senjata Makan Tuan

Sedangkan soft approach perlu dilakukan oleh aktor-aktor non militer. Salah satunya adalah pemerintah daerah.

“Cara yang dapat dilakukan adalah melalui upaya-upaya persuasif: melalui sosialisasi, pendidikan, ceramah, pengajian, cangkruan,” paparnya, Sabtu (19/5/2018).

Tujuannya tak lain adalah mencegah agar paham-paham ekstremisme dan radikalisme tidak sampai menembus akal sehat masyarakat. Menurutnya, pemerintah daerah harus memaksimalkan peran RT/RW dan pemerintah di level kelurahan untuk melakukan upaya preventif guna mengawasi tumbuhnya paham radikalisme di masyarakat.

Namun demikian, pemerintah tidak bisa menjadi aktor tunggal. Perlu sinergitas multiaktor dalam melakukan upaya-upaya preventif dan pendekatan persuasif.

Aktor-aktor tersebut antara lain seperti organisasi Islam moderat, LSM kelompok civil society, atau sukarelawan.

Dilanjutkan Najamuddin, sinergitas multi aktor itu menjadi penting karena masyarakat lebih percaya dengan aktor-aktor seperti organisasi keagamaan ketika memberikan "pemahaman" dibanding oleh pemerintah.

Baca: Ustaz Abdul Somad Tak Masuk Daftar Kemenag, Fahri Hamzah Sarankan Kemenag Seperti ini

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved