Dirikan Komunitas Pegon, Lestarikan Literasi Muslim pada Anak Muda Banyuwangi

“Aksara pegon berarti aksara yang menyimpang dari pakem,” kata Ayung, Pendiri Komunitas Pegon, Banyuwangi

Dirikan Komunitas Pegon, Lestarikan Literasi Muslim pada Anak Muda Banyuwangi
Surya/Haorrahman
Ayung Notonegoro dan kitab-kitab kunonya. 

 TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pegon berarti aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, atau tulisan Arab yang tidak diberi tanda-tanda (diakritik), tulisan Arab gundul.

“Pegon itu berarti menyimpang. Aksara pegon berarti aksara yang menyimpang dari pakem,” kata Ayung, Pendiri Komunitas Pegon, Banyuwangi.

Aksara pegon tidak sesuai dengan pakem huruf hijaiyah, karena penulisannya berdasarkan bahasa Jawa atau Melayu. Perbedaan pegon Jawa dan Melayu, pegon Jawa huruf vokalnya menggunakan huruf bukan harakat. Berbeda dengan pegon Melayu, yang huruf vokalnya menggunakan harakat.

Ilmu inilah yang coba dilesatarikan oleh Ayung, dengan mendirikan Komunitas Pegon. Komunitas Pegon menelusuri dan mempelajari sejarah dan hasanah Islam, khususnya tentang pesantren dan ulama di Banyuwangi, lalu mempublikasikannya di media sosial.

Baca: Pemuda di Banyuwangi ini jadi Penjaga Catatan Kuno para Ulama

”Sangat banyak jejak sejarah Islam nusantra dan kiprahnya di Banyuwangi. Ini yang coba kami telusuri, pelajari, tuturkan dan tularkan pada anak-anak muda di Banyuwangi,” kata Ayung.

Misalnya, Kiai Saleh Lateng, yang memiliki peran penting dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Dalam pertempuran di Surabaya, yang terkenal sebagai Hari Pahlawan, Kiai Lateng tidak hanya mengirimkan para santri untuk ikut berperang di Surabaya, tapi juga ikut angkat senjata.

Bersama sahabatnya, Kiai Syamsuri Singonegaran dan Kiai Abdul Wahab Penataban, Kiai Lateng juga merupakan punggawa pasukan Sabilillah Banyuwangi.

Bahkan dalam pemberitaan surat kabar ‘Kedaulatan Rakjat’, pada 26 November 1945, yang memuat berita fenomenal itu, menulis, “Kesaktian Kijai2 di medan pertempoeran, ternyata boekan hanja berita lagi, tapi kita saksikan sendiri. Banjak mortier jang melempem, bom tidak meledak.”

Hal itu tidak banyak diketahui bahkan oleh anak-anak muda Banyuwangi. Ayung bersama komunitasnya rutin menggelar kajian-kajian tentang sejarah Islam, para ulama, dan pesantren. Anggota komunitas tidak banyak, hanya sekitar tujuh orang. Namun kiprah mereka berguna bagi perkembangan sejarah Islam di Banyuwangi.

Baca: Ledakan Mercon Hancurkan Rumah di Lawang Malang, Satu Tewas dan Seorang Kritis

Tidak hanya Komunitas Pegon, Ayung juga membentuk komunitas anak muda di kampungnya, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari Banyuwangi, Rumah Kreatif (RK) Mawar. Komunitas ini untuk menggali potensi desa.

Rumah Kreatif Mawar ini bagian dari upaya untuk melakukan pemberdayaan desa. Selain menggali potensi desa, juga disemarakkan berbagai pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).

"Di komunitas ini kami menyiapkan berbagai kegiatan produktif. Mulai dari pelatihan, pengembangan SDM, kegiatan budaya, rumah baca dan lainnya,” kata Ayung. (haorrahman)

Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved