Serangan Bom di Surabaya

Usai Bertemu Anak Bomber Surabaya - Sidoarjo, Ini Komentar Wali Kota Surabaya Risma

-Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya akhirnya menemui anak Bomber di Surabaya - Sidoarjo di RS Bhayangkara Surabaya

Usai Bertemu Anak Bomber Surabaya - Sidoarjo, Ini Komentar Wali Kota Surabaya Risma
(Surya/Fatkhul Alamy)
Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin didampingi perwakilan Kemensos, Wali Kota Suranaya Tri Rismaharini saat memberi keterangan ke media soal 7 anak pelaku bom bunuh diri, Selasa (12/6/2018). 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya akhirnya menemui anak Bomber di Surabaya - Sidoarjo, yang dirawat intensif di Crisis Center Anggrek 20 RS Bhayangkara Surabaya, Selasa (12/6/2018).

Setelah sebelumnya ada permintaan dari Ais (8) anak bomber di Kantor Polrestabes Surabaya, melalui psikolog yang merawat mereka pasca kejadiam 13-14 Mei 2018.

Risma menceritakan selain Ais di dalam ruangan, dia bersama Kombes Pol Rudi Setiawan, Kapolrestabes Surabaya bertemu dengan enam anak bomber lainnya. Totalnya tujuh anak.

"Tadi Ais cerita macam-macam, dia ternyata juara pencak silat Jawa Timur. Tadi saya beri buku, lalu ada satu anak pelaku di Manukan itu biar main bola. Ais sudah ceria meski tangannya patah sebelah kanan," kata Risma, Selasa (12/6) saat ditemui di Polda Jatim.

Baca: Begini Nasib 7 Anak Teroris Usai Orangtuanya Ledakkan Bom Bulan Lalu, Patah Tangan hingga Suka Debat

Risma mengatakan Ais terlihat senang karena punya banyak teman. Namun ada satu anak yang membuat Risma jadi ingin sedikit memberikan penjelasan.

"Ada satu, yang saya agak jelaskan dikit," tambah Risma, yang sudah tahu sebelumnya sebagian anak bomber ada yang masih suka mendebat.

Saat bertemu Risma, Ais tidak menyampaikan keinginan apapun. Dia hanya tersenyum malu.

Selama anak-anak bomber di RS Bhayangkara, Wali Kota Risma mengaku sudah mengupayakan yang terbaik, dengan memberikan pendampingan psikolog.

Karena kondisi mereka yang suka berdebat soal Agama, Risma akhirnya meminta bantuan Psikolog dari Universitas Sunan Ampel Surabaya (UINSA) untuk bekerjasama.

"Saya carikan dari UINSA yang ngerti dalil-dalil, jadi tandem. Tadi juga menjelaskan pakai dalil, misalnya senyum dalilnya apa, baik hati dalilnya apa, senyum dalilnya apa. Anak-anak itu terlihat lebih bisa menerima," cerita Risma.

Baca: Tiket Kereta Api Luxury Sleeper Bertarif Rp 900 Ribu Sudah Habis

Sama halnya dengan kebanyakan orangtua, Risma berharap anak-anak yang juga korban pemahaman radikalisme orangtuanya ini, tumbuh normal.

"Tadi saya sampaikan kalau banyak teman, banyak saudara senang bisa bermain dan belajar bersama-sama, ya mereka bilang betul. uda kepingin sekolah juga," pesannya. Pipit Maulidiya

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved