Kepala Bapenas Sebut Penerapan Circular Economy di Indonesia Belum Maksimal, Kok Bisa?

Sistem circular economy adalah sampah didaur ulang supaya memiliki nilai ekonomi dan timbunannya bisa berkurang.

Kepala Bapenas Sebut Penerapan Circular Economy di Indonesia Belum Maksimal, Kok Bisa?
TRIBUNJATIM.COM/ARIE NOER RACHMAWATI
Media briefing The 2nd Circular Economy Forum di Grand City Convex Surabaya, Kamis (28/6/2018). 

Laporan wartawan TribunJatim.com, Arie Noer Rachmawati

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pemerintah Indonesia telah mencanangkan sistem circular economy.

Artinya sampah didaur ulang supaya memiliki nilai ekonomi dan timbunannya bisa berkurang.

Akan tetapi, hingga kini penerapannya masih belum maksimal.

Sebab, beberapa masih menggunakan sistem kumpul, angkut, buang atau yang dikenal linear economy.

Kepala Bapenas Bidang Memaritiman dan Sumber Daya Alam, Arifin Rudiyanto mengakui, pelaksanaan circular economy di Indonesia memang belum optimal.

Ada Pesan dari Kementerian Lingkungan Hidup Buat Kamu yang Ingin Ikut Rayakan Tahun Baru )

Dia mengatakan, satu di antara hambatannya ialah terkait regulasi yang masih belum jelas pelaksanaannya seperti apa.

"Karena itu, untuk mencari regulasi yang pas kami telah memiliki beberapa pilot project di Jawa Tengah kerjasama dengan pemerintah Denmark," ujarnya saat media briefing The 2nd Circular Economy Forum 2018 di Grand City Convex Surabaya, Kamis (28/6/2018).

Proyek tersebut, dikatakan Arifin, ialah terkait bagaimana pengelolaan limbah sampah supaya bisa digunakan sebagai komponen bahan bakar dengan menggunakan teknologi refuse derived fuel (RDF).

Diketahui, penerapan teknologi RDF itu mampu menurunkan sampah yang dipasok dari TPA lebih dari 44 ribu ton per tahun dan mampu mengganti batu bara lebih dari 10 ribu ton per tahun.

Halaman
12
Penulis: Arie Noer Rachmawati
Editor: Edwin Fajerial
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved