Ratusan Sopir Truk di kabupaten Kediri Protes Alat Berat Ungkap Jual Beli Izin Penambangan

sopir dump truk curigai jual beli izin lokasi penambangan galian C di aliran lahar Gunung Kelud di kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Yoni Iskandar
(Surya/Didik Mashudi)
Ratusan penambang pasir dan sopir dump truk demo ke base camp PT HSB di Desa Sidomulyo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Senin (2/7/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Protes ratusan penambang pasir tradisional dan sopir dump truk juga mengungkap adanya praktek jual beli izin lokasi penambangan galian C di aliran lahar Gunung Kelud di kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.

Karena PT Hasil Sukses Bersama (HSB) yang berencana melakukan penambangan di sepanjang Kali Lahar Pulo, Desa Satak, Kecamatan Puncu ternyata tidak mengantongi izin.

Pihak PT HSB hanya memperlihatkan izin CV Dapur Ngebul milik Rinawan warga Desa Nanggungan, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri.

Berdasarkan izin yang disodorkan Rinawan, CV Dapur Ngebul mendapatkan izin konsensi penambangan berdasarkan SK Gubernur Jatim No : P2T/80/15.02/IX/2017.

Baca: Ratusan Penambang Tradisional di Kabupaten Kediri Protes Alat Berat

Rinawan saat dikonfirmasi Surya membenarkan PT HSB yang berencana beroperasi di aliran Kali Lahar Pulo memang menggunakan izin milik CV Dapur Ngebul. "Benar kami ngesubkan izin," jelasnya kepada Surya, Senin (2/7/2018).

Atas dasar izin milik CV Dapur Ngebul kemudian PT HSB yang akan melakukan penambangan. Sehingga PT HSB mengirimkan alat berat ezkavator ke lokasi penambangan sejak Sabtu (30/6/2018) malam.

Namun para penambang tradisional yang mengetahui kedatangan alat berat keburu memprotesnya. Keberadaan alat berat dikhawatirkan mengancam eksistensi para penambang tradisional di sepanjang aliran lahar Kali Pulo.

Selama ini ada ribuan penambang pasir manual yang bekerja di lokasi tersebut. Kedatangan alat berat itu mengancam para penambang tradisional.

"Kami tentu akan kalah bersaing dengan alat berat. Satu alat berat itu sama dengan 300 orang penambang manual," ungkap Imam (35), salah satu penambang.

Sejak awal para penambang telah menolak rencana masulnya perusahaan yang akan mengeksploitasi pasir aliran lahar Gunung Kelud.

Baca: Soal Penemuan Ikan Arapaima Gigas di Indonesia, Susi Pudjiastuti Beri Himbauan Tegas Bagi Pemelihara

"Sungai aliran lahar itu tempat kami mencari makan. Ada ribuan orang yang hidupnya tergantung dari mencari pasir," jelasnya.

Terlebih para penambang tradisional itu telah memiliki paguyuban berbadan hukum. Saat ini ada 5 paguyuban yang menaungi ribuan penambang tradisional.

"Kami punya badan hukum yang legal," ungkap Tubagus.

Selama ini tambah Tubagus pengurus paguyuban tersebut sama sekali belum diajak koordinasi oleh pihak yang akan melakukan penambangan.

"Mereka masuk tanpa koordinasi serta ngesub dengan CV Dapur Ngebul," tandasnya.

Sementara Kapolsek Puncu AKP Fuadi saat dikonfirmasi Surya menjelaskan, telah ada kesepakatan antara pihak PT HSB dengan penambang tradisional.

Baca: Calon yang Diusung Gagal Menang Pilkada, Ketua PDIP ini Langsung Mundur dari Jabatannya

Kesepakatan tersebut berupa kesediaan PT HSB untuk menarik kembali alat berat ke lokasi base camp.

"Penambang dan sopir dump truk hang unjuk rasa telah menerima kesepakatan," jelasnya.

Pascaunjuk rasa, pihak penambang tradisional dan PT HSB juga berencana melakukan koordinasi lebih lanjut terkait penambangan galian C.(dim)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved