Kekeringan Ancam Ribuan Petani Tambak di Lamongan Yang Beralih Tanam Padi

Para petani tambak di wilayah Kabupaten Lamongan yang beralih tanam padi pada musim kemarau ini dihantui ketakutan

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Yoni Iskandar
Surya/hanif manshuri
Anak sungai yang kering mengancam keselamatan lahan pertanian warga Lamongan, Senin (16/7) 

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Para petani tambak di wilayah Kabupaten Lamongan  yang beralih tanam padi pada musim kemarau ini dihantui ketakutan akan kekeringan akibat air di sejumlah anak sungai mulai mengering.

Bahkan sisa air dalam lahan yang baru ditanami dan rata rata baru berumur 45 hari dikhawatirkan tidak ideal mencukupi.

Pasalnya air di anak sungai yang biasanya diandalkan untuk pengairan lahan tanam padi sudah tidak tersedia lagi.

"Anak sungai dari Glagah hingga Kaliotik sudah kering. Para petani saling berebut memasukkan air ke lahan," ungkap Sulaiman, petani Deket kepada Tribunjatim.com, Senin (16/7/2018).

Kondisi ini tahun-tahun sebelumnya tidak parnah dialami petani ribuan petani.
Biasanya air di sejumlah anak sungai masih cukup banyak saat usia tanam padi sangat muda.

Baca: Dilaporkan Sakit, Dimas Kanjeng akan Disidang pada 1 Agustus 2018 Mendatang

Minimnya persediaan air saat ini dikhawatirkan akan mempengaruhi produksi saat masa panen nanti.

Sementara itu petani yang ada di wilayah Kecamatan Deket enggan memasukkan air Bengawan Solo dari pintu ujung silat ah Glagah. Jika dipaksakan, air akan habis sebelum sampai ke hulu anak Sungai di wilayah Deket.

"Ya keburu habis di jalan, dipompa warga di sepanjang air mengalir," ungkap Kepala Desa Deket Lamongan, Fadlan.

Solusinya harus pemerintah daerah yang melakukan upaya memasukkan air ke anak sungai untuk mencukupkan pengairan di lahan pertanian.

Saat ini juga masih banyak petani yang baru sepekan menanam.

"Saat ini petani sedang susah," ungkap Fadlan.

Baca: Warga Mojokerto Diteror Oleh Ular Sanca Kembang Yang Muncul Secara Misterius

Petani masih membiarkan pompa air di sepanjang tanggul kanan- kiri anak sungai.

Dengan harapan, jika sewaktu waktu air datang, mereka tidak kerepotan lagi memasukkan air ke lahan.

Sementara itu, Sudjarwo, petani Kecamatan Turi juga berharap keperdulian pemerintah daerah untuk membantu atas kesulitan petani.

"Istilah menterengnya, pemerintah harus hadir," ungkap Sudjarwo.

Jika dibiarkan kondisi apa adanya, maka jangan diharap Lamongan akan menjadi lumbung padi dan pemasok beras nasional.

Mustahil itu akan dicapai, kalau kebutuhan pengairan tidak tercukupi.(Surya/Hanif Manshuri)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved