Dua Dosen UM Dijemput Paksa Kejari Kota Malang

Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang menjemput paksa dua orang dosen Universitas Negeri Malang (UM).

Dua Dosen UM Dijemput Paksa Kejari Kota Malang
Benni Indo/Surya
Kajari Kota Malang Amran Lakoni menunjukkan foto saat penjemputan paksa dua orang dosen UM, Kamis (19/7/2018). 

Di Kejari Kota Malang, kata Amran, sempat ada seorang pengacara Andoyo. Pengacara itu sempat melobi agar kliennya tidak ditahan. Pengacara juga ngotot meminta surat tembusan dari Pengadilan Tipikor.

"Ini kan putusan kasasi dari MA. Kok minta keterangan dari Tipikor. Kan aneh. Ya sudah akhirnya saya perintahkan bawahan untuk membawa terpidana ke Lapas Klas I Malang," kata Amran.

Dipaparkan Amran, kasus korupsi ini terkait pengadaan peralatan laboratorium Fakultas MIPA UM tahun anggaran 2009. Saat itu, ada kucuran dana dari APBN senilai Rp 40.5 miliar. Namun terjadi praktik mark up sepesifikasi harga barang yang dipesan.

Berdasarkan hitung-hitungan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terdapat kerugian negara senila sekitar Rp 14.9 miliar.

"Pas verifikasi, ada permainan Harga Perkiraan Sementara (HPS). Sekarang alat-alatnya ada di lab. Barang itu menjadi barang bukti dan kita titipkan di sana," imbuh Amran.

Saat itu, Abdullah Fuad menjabat sebagai ketua panitia lelang. Sutoyo selaku sekretaris dan Andoyo sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK). Kejari tengah memburu Sutoyo yang hingga Kamis sore belum diamankan.

Fatin Shidqia Miris Lihat Peserta Audisi Disuruh Keluar Gara-Gara Penampilannya Terlalu Sederhana

Wakil Rektor 2 UM Prof Wahjoedi mengatakan sempat kaget ketika tahu kalau ada bawahannya yang dijemput. Pasalnya, menurut Wahjoedi, tidak ada pemberitahuan ke lembaga sebelum adanya penjemputan.

"Kami kemarin kaget. Tiba-tiba ada penjemputan itu. Jadi, kagetnya kenapa, karena tidak ada informasi secara resmi kelembagaan. Kami tidak mendapat surat itu," ungkapnya.

Namun Wahjoedi menjelaskan tidak akan menghalangi proses hukum yang saat ini sedang diproses di Kejari Kota Malang. Wahjoedi mengaku tidak tahu menahu terkait kasus yang saat ini terjadi.

"Karena terus terang peristiwa ini kami belum tahu. Selama ini bahwa, terutama Pak Andoyo bekerja dengan baik. Hubungan kerjanya memang berkinerja baik. Sehingga kalau harus dirumahkan, kita tidak bisa menghalangi," paparnya.

Ketika ditanya lebih lanjut, Wahjoedi menyarankan untuk langsung menghubungi Rektor UM Prof AH Rofi'uddin. (Benni Indo)

Penulis: Benni Indo
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved