Dampak Kekeringan di Tulungagung, Warga Hanya Mandi Sehari Sekali hingga Terpaksa Beli Air Bersih

Dampak kekeringan di Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung mulai dirasakan masyarakat.

Penulis: David Yohanes | Editor: Edwin Fajerial
SURYA/DAVID YOHANES
Petugas BPBD Tulungagung tengah menyalurkan air bersih dari tanki ke bak penampungan milik warga, pada Jumat (3/8/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Dampak kekeringan di Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung mulai dirasakan masyarakat.

Kekeringan terjadi sejak pertengahan Juni 2018. Sumur-sumur sumber air bersih pelan-pelan mengering.

Ada sekitar 20 keluarga di Dusun Darungan dan 30 keluarga di Dusun Banaran yang terdampak.

Warga biasanya memanfaatkan sumber sejauh 3 kilometer dari permukiman.

Lima Kecamatan di Tulungagung Alami Kekeringan, BPBD Sudah Mulai Kirim Air Bersih

Menurut Kepala Dusun Darungan, Samsul Hadi (51) warga harus berangkat sekitar pukul 04.00 WIB untuk mendapatkan air.

Para pekerja juga harus cepat-cepat mandi di lokasi sumber ini, jika tidak mereka akan kesiangan.

“Kalau pagi antrean di sumber mata air itu luar biasa. Makanya yang mau kerja harus datang pagi sekali,” ungkap Samsul.

Bagi warga yang tidak punya kepentingan di luar, mereka mengurangi waktu mandi.

Kekeringan Ancam Ribuan Petani Tambak di Lamongan Yang Beralih Tanam Padi

Biasanya pagi hari mereka tidak mandi, barulah saat menjelang sore mereka mandi.

Kadang kala warga juga minta bantuan kepada warga yang mempunyai kendaraan pikap, untuk mencarikan air bersih.

Mereka menitipkan sejumlah drum plastik ukuran besar untuk diisikan di desa lain yang punya sumber air bersih.

“Warga hanya patungan untuk mengganti biaya solar. Jadi niatnya memang menolong saja,” tambah Samsul.

10 Desa di Empat Kecamatan di Kabupatren Sumenep Dilanda Kekeringan

Namun, ada pula yang membeli air dengan harga Rp 10.000 per drum plastik ukuran besar.

Seorang warga bernama Mistiani mengaku selalu membeli air bersih 10 drum setiap dua minggu

“Anggota keluarga saya hanya tiga orang, jadi 10 drum itu cukup untuk 2 minggu,” tuturnya.

Wati pun harus mengeluarkan uang Rp 200.000 setiap bulan untuk air bersih. (Surya/David Yohanes)

4 Hari Hujan Guyur Bangkalan Saat Darurat Kekeringan, BPBD Langsung Warning Para Nelayan

BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved