Balon Udara dan Puntung Rokok Bikin 16 Hektar Hutan di KPH Lawu Ludes Terbakar

Sebanyak 16 hektar hutan di KPH Lawu ludes terbakar gara-gara balon udara dan puntung rokok.

Balon Udara dan Puntung Rokok Bikin 16 Hektar Hutan di KPH Lawu Ludes Terbakar
TRIBUNJATIM.COM/IST
Anggota Koramil 0802/08 Sampung bersama petugas RPH Tulung dan masyarakat berusaha memadamkan api di Gunung Angel, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo. 

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Selama Januari hingga Juli 2018, Perhutani KPH Lawu mendata sekitar 16 hektare lahan terbakar. Sebagian besar kebakaran hutan yang terbakar berada di wilayah Kabupaten Ponorogo.

Wakil Kepala KPH Lawu Adi Nugroho mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kebakaran. Namun kebakaran yang terjadi di Ponorogo sebagian besar disebabkan faktor manusia.

Adi menuturkan, sebagian besar peristiwa kebakaran hutan di wilayah Ponorogo disebabkan balon udara yang diterbangkan masyarakat. Balon udara berbahan bakar api itu jatuh menimpa semak belukar kering, kemudian menyebabkan terjadinya kebakaran.

"Habis lebaran paling banyak terjadi kebakaran di Ponorogo. Sebab, di Ponorogo menerbangkan balon udara menjadi tradisi setiap lebaran," kata Adi saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/8/2018).

Selain balon udara, penyebab kebakaran hutan di wilayah Ponorogo disebabkan warga yang membuang puntung rokok secara sembarangan.

Ada juga pencari madu hutan yang lupa mematikan api yang digunakan untuk mengusir lebah, pada saat akan mengambil madu.

Meski demikian, kata Adi, kebakaran tidak membakar tanaman pokok yang ada di wilayah KPH Lawu. Kebakaran di Ponorogo, hanya membakar semak-semak.

Selama ini upaya pemadaman api kebakaran, dilakukan petugas perhutani dibantu petugas dari Polri, TNI, BPBD, serta masyarakat setempat, sehingga kebakaran hutan tidak meluas.

Kepada masyarakat, Adi mengimbau agar menjaga hutan dari bencana kebakaran. Apalagi, sebagian besar masyarakat di sekitar hutan hidup dari hasil hutan.

"Kami sudah kerap melakukan sosialisasi dan mengajak masyarakat untuk ikut menjaga hutan. Serta memasang banner larangan untuk menyalakan api di hutan," tegasnya.

Upaya lain yang dilakukan Perhutani KPH lawu guna melindungan kawasan hutan yakni dengan membentuk satgas dalkar atau satuan tugas pengendalian kebakaran hutan. Satgas ini bertugas memantau kondisi hutan selama musim kemarau, setiap hari.

Lahan Perhutani KPH Lawu seluas 52.000 hektare, meliputi wilayah Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, dan Pacitan. KPH Lawu memiliki dua tanaman pokok Pinus dan Jati. (Surya/Rbp)

Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved