Klaster Beras Organik Lombok Kulon Targetkan 160 Hektare Lahan Tersertifikasi SNI sampai Akhir Tahun

Klaster Beras Organik di Kecamatan Wonosari, Bondowoso tengah melakukan upaya untuk memperoleh sertifikasi lahan beras organik.

Klaster Beras Organik Lombok Kulon Targetkan 160 Hektare Lahan Tersertifikasi SNI sampai Akhir Tahun
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Ketua Gapoktan Al Barokah, Mulyono menunjukkan beras organik putih di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, Kamis (23/8/2018). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Arie Noer Rachmawati

TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Klaster Beras Organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso tengah melakukan upaya untuk memperoleh sertifikasi lahan beras organik.

Klaster Beras Organik yang berasal dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Al Barokah sekaligus binaan dari Bank Indonesia KPw Jember ini mencanangkan akhir tahun 2018 melakukan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) lahan organik seluas 160 hektare dari 7 poktan dalam satu gapoktan.

"Dari 160 hektare itu, seluas 20 hektare telah diajukan untuk mendapatkan sertifikasi internasional dan pada Maret 2018 sertifikasi sudah dikantongi dari Control Union berlaku hingga satu tahun ke depan," ujar Pendamping Gapoktan Al Barokah, Prof Indah Prihantini sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Bondowoso, Kamis (23/8/2018).

Jafro Peraih Emas Paralayang Asian Games Berasal dari Kota Batu, Begini Lika-liku Kisah Hidupnya

Indah mengatakan, apabila sudah mengantongi sertifikasi itu, secara otomatis hasil dari lahan tersebut utamanya beras bisa diklaim sebagai beras organik.

Namun, tantangannya untuk sertifikasi internasional ini perlu adanya penilaian dari mulai sumber air, lingkungan lahan, hingga rumah tangga petani beras organik itu.

"Sebab, kalau sampai ketahuan ada hasil beras yang mengandung bahan kimia itu tidak bisa dikatakan organik lagi malah bisa jadi beras dari petani itu tidak bisa digunakan lagi," terangnya.

Separuh dari 6,2 Juta Truk di Indonesia Berusia di Atas 20 Tahun, Aptrindo Berharap Pembaruan Armada

Dijelaskan Indah, Klaster Beras Organik di Gapoktan Al Barokah ini disebut sebagai korporat farming walaupun masih dalam bentuk embrio dan sudah bisa dibilang menjadi usaha menengah ke atas.

Rata-rata produktivitas dari lahan beras organik di Desa Lombok Kulon per hektare sebesar 7-8 ton.

Jumlah ini melonjak tajam jika dibandingkan pada lima tahun awal yang masih 4,8 ton per hektarenya.

"Di sini on farm-nya sangat baik sekali untuk beras organik. Banyak pihak terlibat, mulai dari pemerintah Kabupaten Bondowoso, Dinas Pertanian Bondowoso, hingga BI KPw Jember," terangnya.

Tanggapan Pelindo III Terkait Aksi Penolakan Pembayaran Uang Sewa Lahan oleh Warga Perak Surabaya

Setidaknya dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso telah mengucurkan dana sebesar Rp 2,6 miliar untuk mendukung program organik atau disebut BOTANIK (Bondowoso Petani Organik) dari APBD kedua.

Sementara itu, Deputi Bank Indonesia Jember, M Lukman Hakim menambahkan, sertifikasi lahan beras organik bisa dibilang menjadi peluang terbukanya untuk ekspor ke mancanegara.

"Jadi selain memproduksi beras organik untuk pasar domestik maupun lokal. Ini juga bisa untuk menjajaki pasar internasional dan kesempatan ini tidak bisa dilepas begitu saja, bisa digunakan semaksimal mungkin. Ke depannya, dengan adanya sertifikasi ini kesejahteraan petani bisa meningkat," tambahnya.

Theme Song Asian Games 2018 Meraih Bintang Dinyanyikan dalam Berbagai Bahasa, Mana Favoritmu?

Yuk subscribe YouTube Channel TribunJatim.com

Penulis: Arie Noer Rachmawati
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved