Tak Hanya Beras Organik, Desa Lombok Kulon Bondowoso Juga Produksi Minyak Goreng dari Bekatul Beras

Ketua Gapoktan Al Barokah Bondowoso, Mulyono mengungkapkan, klaster beras organik di Desa Lombok Kulon tidak hanya menghasilkan beras organik saja.

Tak Hanya Beras Organik, Desa Lombok Kulon Bondowoso Juga Produksi Minyak Goreng dari Bekatul Beras
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Beras organik hasil produksi Klaster Beras Organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso akan diekspor ke sejumlah negara, Kamis (23/8/2018). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Arie Noer Rachmawati

TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Ketua Gapoktan Al Barokah Bondowoso, Mulyono mengungkapkan, klaster beras organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso tidak hanya menghasilkan beras organik saja.

Melainkan, juga bisa menghasilkan minyak goreng, biskuit, dan sereal berbahan dasar bekatul dari beras organik, utamanya yang berwarna merah.

"Desa Lombok Kulon bisa memproduksi minyak goreng dari bekatul beras merah dan ini bisa dikatakan pertama serta satu-satunya ada produk minyak goreng dari katul beras organik," ujarnya di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, Kamis (23/8/2018).

Produksi Beras Organik Asal Desa Lombok Kulon Bondowoso akan Diekspor ke Mancanegara

Diketahui, beras organik hasil produksi dari Klaster Beras Organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso akan diekspor ke sejumlah negara.

Rencananya, beras organik asal Gapoktan Al Barokah Bondowoso tersebut akan diekspor ke negara Belgia, Hungaria, dan Jepang.

Tak hanya itu, beras organik juga akan dikirim ke beberapa pulau di luar Jawa seperti Kalimantan.

Mulyono menjelaskan, terkait harga beras organik jika dieskpor tentunya memiliki nilai harga lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang dijual di pasar lokal maupun domestik.

Klaster Beras Organik Lombok Kulon Targetkan 160 Hektare Lahan Tersertifikasi SNI sampai Akhir Tahun

"Jika di pasar domestik dijual Rp 15 ribu per kilonya, untuk pasar ekspor harganya menjadi Rp 20 ribu per kilonya," ungkapnya.

Diakui Mulyono, penghasilan dari produksi beras organik sangat berbeda jauh dengan produksi beras konvensional.

Dia mengatakan, setidaknya dalam sebulan untuk petani beras organik mengantongi penghasilan kotor sebesar Rp 38 juta per bulan jika dibandingkan petani beras konvensional sebesar Rp 28 juta per bulan.

Frisian Flag Indonesia Kenalkan Jajaran Kental Manis Baru Rasa Cocopandan, Sudah Coba?

Yuk Follow Instagram TribunJatim.com

Penulis: Arie Noer Rachmawati
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved