Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriyah - Puisi Gus Mus Ini Bisa Jadi Renungan Refleksi Diri

Ada satu puisi KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, yang pas untuk direnungkan menyambut datangnya Tahun Baru Islam.

harvardpolitics.com
Ilustrasi 

TRIBUNJATIM.COM - Jelang pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 Hijryiah, umat Muslim sepatutnya melakukan banyak perenungan.

Ada baiknya kita merefleksi kembali perbuatan dan dosa di tahun lalu, serta bersiap menjadi lebih baik di Tahun Hijriah yang akan datang.

Ada satu puisi KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, yang pas untuk direnungkan menyambut datangnya Tahun Baru Islam.

Puisi tersebut berjudul "Selamat Tahun Baru Kawan".

Prediksi Persebaya Surabaya Vs PS Tira, Selasa 11 September 2018 - Ambisi Dua Pelatih Anyar

Selamat Tahun Baru Kawan

Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?
Muslimkah, mukminin, muttaqin,
kholifah Allah, umat Muhammadkah kita?
Khoirul ummatinkah kita?

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi
Hanya budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan 
Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksa, kita khusyuk didepan masa
Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersama-Nya
Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.
Kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius memohon enak hidup di dunia dan bahagia dis urga.
Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus.

Kita manggut manggut, ooh...beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia-sia
Kalaupun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran upaya-upaya Tuhan menggantinya lipat ganda
Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Ani Susanti
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved