Dua Bulan Diintai Polisi, Razia Tambang Pasir Ilegal di Sungai Brantas Hanya Temukan Mesin Penyedot

Razia tambang pasir ilegal di Sungai Brantas hanya menemukan mesin penyedot, meski sudah diintai polisi selama dua bulan.

Dua Bulan Diintai Polisi, Razia Tambang Pasir Ilegal di Sungai Brantas Hanya Temukan Mesin Penyedot
TRIBUNJATIM.COM/IST
Mesin penyedot yang disita polisi dari penambang pasir ilegal di Sungai Brantas, Tulungagung. 

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Maraknya tambang pasir ilegal dengan mesin penyedot direspon Polres Tulungagung dan Polsek Ngantru dengan menggelar razia gabungan. Namun razia pada Kamis (20/9/2018) dini hari ini tidak membuahkan hasil dan hanya menemukan sejumlah alat sedot.

Razia dilakukan di aliran Sungai Brantas Desa Pinggirsari, Kecamatan Ngantru. Alat yang disita berupa empat set mesin penyedot, berupa rakit selang, dan paralon. Sementara tidak ada satu pun operator maupun pemilik mesin yang ditangkap.

“Kami sudah dua bulan belakangan melakukan pemantauan. Namun setiap kali ada patroli, mereka kucing-kucingan,” terang Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Mustijat Priyambodo.

Penyitaan empat set alat sedot ini bermula dari patroli di sepanjang aliran Brantas sisi utara. Saat itu ada gundukan pasir bekas penambangan tidak jauh dari lapangan desa setempat. Polisi kemudian melacak sejauh satu kilometer, dan menemukan mesin-mesin ini dalam keadaan mati.

Kamis siang empat set mesin menyedot ini diangkut ke Mapolres Tulungagung. Polisi harus minta tolong truk crain untuk mengangkut alat-alat yang ditemukan ini. Proses evakuasi butuh waktu lama karena banyaknya alat.

“Kami yakin alat-alat ini ada yang punya. Karena itu kami akan melakukan penyelidikan untuk mengungkap pemiliknya,” tegas Mustijat.

Seluruh alat yang disita ditaksir senilai Rp 100 juta. Mustijat berjanji akan melakukan pemantauan secara terus menerus. Jika ada mesin penyedot pasir yang beroperasi, pihaknya siap melakukan penindakan.

Aktivitas tambang pasir dengan mesin penyedot di Sungai Brantas Tulungagung selalu kucing-kucingan. Di saat kondisi aman, mereka bebas beroperasi secara terbuka. Setiap harinya puluhan mesin beroperasi seolah tidak takut dengan aparat keamanan.

Namun jika ada yang mulai menyentil keberadaannya, tambang pasir ilegal ini mulai menghilang. Mereka beroperasi pada menjelang pagi, sekitar pukul 03.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB. Setelah itu seluruh alat disingkirkan dari lokasi penambangan.

“Sebenarnya sudah dua bulan ini beroperasinya malam hari. Mungkin karena Kapoldanya baru,” ucap seorang pekerja tambang pasir.

Akibat penyedotan pasir yang tak terkendali ini Sungai Brantas rusak parah. Karena kedalamannya ekstrem, aliran Brantas juga semakin kencang. Sebelumnya pondasi jembatan Ngujang sempat terlihat menggantung karena terkikis aliran Brantas.

Selain itu abrasi talut Brantas juga semakin mendekati jalan utara Ngantru-Blitar. Ada satu titik aliran Brantas hanya berjarak belasan meter dari jalan ini. Jika sedotan pasir tidak dikendalikan, diperkirakan beberapa tahun ke depan badan jalan akan ikut ambrol. (David Yohanes)

Penulis: David Yohanes
Editor: Mujib Anwar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved