Krisis Air Bersih Menerjang, Emak-emak & Anak-anak di Mojokerto Protes Galian C dan Long March 3 KM

Emak-emak dan anak-anak di Mojokerto memprotes galian C dan long march hingga 3 kilometer, karena krisis air bersih menerjang.

Editor: Mujib Anwar
SURYA/DANENDRA KUSUMA
Ibu-ibu dan anak-anak saat long march sepanjang 3 km dari Balai Dusun Dukuh, Desa Jati Dukuh, Kecamatan Gondang, Mojokerto ke lokasi galian C, Senin (1/10/2018). Di sepanjang jalan, mereka berteriak dan membentangkan tulisan protes. 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Sejumlah ibu-ibu alias Emak-emak dan anak-anak melakukan long march sepanjang 3 kilometer dari Balai Dusun Dukuh, Desa Jati Dukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto ke lokasi galian C, Senin (1/10/2018).

Sembari berjalan, mereka berteriak dan membentangkan karton bertuliskan kata-kata protes. "Airku kotor, segera tutup galian," teriak warga.

Perjalanan mereka tempuh sekitar hampir 2 jam. Pihak kepolisian Polsek Gondang mengawal perjalanan mereka.

Demi Kampanye, Pasutri asal Tulungagung ini Rela Ungkap Jadi Diri Pencandu Narkoba & Dijadikan Film

Aksi long march dilakukan warga, lantaran masalah kekeringan dan air bersih di desa mereka yang tak kunjung menemui titik terang. Aksi ini adalah aksi lanjutan demo yang dilakukan ibu-ibu di Balai Dusun Dukuh beberapa bulan lalu. Mediasi dengan kuasa hukum galian beberapa bulan lalu, juga belum berbuah manis.

Sesampainya di lokasi galian, jalan utama tertutup oleh batuan besar. Semangat mereka tak surut, warga yang berhasil merangkak naik ke atas batus, menyodorkan uluran tangan. mereka bahu-membahu agar dapat melewati batu itu.

Setelah berhasil melewati batu ukuran besar itu, warga mendapati sungai Galuh yang mengaliri dusunnya ditanggul dengan urugan tanah. Sehingga air tak dapat mengalir (terbuntu).

Sekali Produksi Untung Rp 12,5 Juta, Pabrik Miras Arak di Mojokerto yang Kelabuhi Warga Dibongkar

Khusnul Khatimah (46) warga Desa Jatidukuh mengatakan, tuntutan warga kali ini masih sama seperti aksi sebelumnya. Yakni penutupan Galian, juga alat berat yang berada di lokasi galian, segera di naikkan.

Tujuan warga mendatangi lokasi galian untuk membuktikan, bahwa galian yang  beroperasi hampir satu tahun lebih ini, menjadi faktor penyebab kekeringan di desanya.

"Tuntutan kami bego harus turun. Karena galian C air keruh, sawah tidak teraliri," tegasnya.

Ia menyebutkan, warga telah melakukan unjuk rasa sebanyak 6 kali. Namun, tetap saja masalah kekeringan dan air bersih tak terselesaikan.

Edarkan Narkoba di Kawasan Kos-kosan Surabaya, Anak Dibawah Umur ini Diberi Upah Rp 25 Ribu Perpoket

"Kami mendemo 6 kali tidak berhasil. Selanjutnya kami akan langsung ke Gubernur Jawa Timur untuk mengadu tentang masalah yang menimpa beberapa warga dusun," katanya.

Ia melanjutkan, warga yang terdampak kekeringan dan air bersih sekira lebih dari 500 warga. Ia mengungkapkan sungai Galuh adalah satu-satunya sumber kehidupan warga.

"Air sungai kami buat untuk kebutuhan sehari-hari. Saat ini kami kesulitan mencari air bersih," ungkapnya.

Khusnul juga khawatir, selain mengakibatkan kekeringan, galian C dapat menimbulkan bencana longsor dan banjir. "Saya khawatir, tidak digali saja dusun kami pernah banjir dan longsor," urainya.

Rem Blong Dump Truk Sebabkan Laka Maut di Ngimbang Lamongan, Begini Pengakuan Sopir Sambil Terisak

Sementara itu, Kapolsek Gondang AKP Selamet Kapolsek Gondang mengatakan, terkait aksi warga kali ini, pihaknya bersama anggota hanya bertugas sebagai pengamanan, sesuai dengan surat izin yang di berikan warga.

"Sementara terkait galian ini ilegal atau legal, kami tidak tau pasti. Sebab dalam hal perizinan dan dugaan yang di lontarkan oleh warga bukan rana kepolisi," tegasnya. 

Para warga juga sempat mengeduk tanggul dengan menggunakan cangkul, supaya air dapat mengalir. Mereka juga melakukan doa bersama di lokasi galian. (Danendra Kusuma)

Gubuk Cinta di Pantai Cemara Tuban Jadi Tempat Mesum Pasangan Muda-mudi

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved