Taman Gandrung Terakota Banyuwangi Diresmikan 20 Oktober 2018, Hadirkan Keindahan 1000 Patung Penari

Taman Gandrung Terakota (TGT) dengan seribu visualisasi penari Gandrung Banyuwang akan diresmikan Sabtu, (20/10/2018) mendatang.

Taman Gandrung Terakota Banyuwangi Diresmikan 20 Oktober 2018, Hadirkan Keindahan 1000 Patung Penari
SURYA/HAORRAHMAN
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, bersama Sigit Pramono, di Gandrung Terakota.  

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Taman Gandrung Terakota (TGT) dengan seribu visualisasi penari Gandrung Banyuwang akan diresmikan Sabtu, (20/10/2018) mendatang.

Taman itu berada di lahan sawah terasering di lereng Gunung Ijen, tepatnya di kawasan Jiwa Jawa Ijen Resort, Kecamatan Licin, Banyuwangi.

“Sekarang prosesnya sedang berjalan, kemungkinan Ibu Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Menteri Pariwisata berkenan meresmikan. Taman ini menjadi ikon baru wisata Banyuwangi. Diinisiasi oleh swasta tanpa APBD. Kami bersyukur dengan dukungan banyak pihak untuk mengembangkan wisata di Banyuwangi,” ujar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, Sabtu (6/10/2018).

Indahnya Seribu Patung Penari Gandrung di Tengah Sawah Lereng Gunung Ijen, Simak Cerita Pembuatannya

Di tanggal 20 Oktober 2018, saat peresmian, juga merupakan jadwal pelaksanaan Festival Gandrung Sewu, sebuah parade kolosal ribuan penari di bibir Pantai Marina Boom. 

Tari Gandrung merupakan kesenian yang telah ditetapkan Warisan Budaya Tak-Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tari itu kerap tampil di berbagai acara Istana Negara sampai kancah internasional.

Terakota sendiri adalah nama lain dari tembikar atau gerabah, sebagai bahan dasar visualisasi penari gandrung ini.

“Taman ini adalah situs untuk merawat dan meruwat Tari Gandrung sebagai salah satu identitas budaya Banyuwangi,” ujar Sigit Pramono, penggagas Taman Gandrung Terakota yang juga pemilik Jiwa Jawa Resort.

Drama Musikal Meras Gandrung Awali Jazz Gunung Ijen dan Soft Launching Taman Gandrung Terakota

Sigit menambahkan, upaya merawat dan meruwat budaya tersebut sengaja dilakukan dengan pendekatan kawasan, di mana situs budaya ini terhampar di puluhan hektar lahan persawahan yang dibiarkan tetap alami.

“Pada intinya, kesenian Gandrung memang berasal dari tradisi rakyat. Yang awalnya adalah wujud syukur atas hasil pertanian yang melimpah. Karena itu, situs rawat-ruwat Tari Gandrung ini pun kita hamparkan berdampingan dengan aktivitas rakyat, yaitu petani yang tetap membajak sawah dengan kerbau, menanam dan memanen padi,” ujar bankir senior mantan direktur utama BNI tersebut.

Halaman
12
Penulis: Haorrahman
Editor: Ani Susanti
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved