Kepala Bappeda Sebut Rokok dan Pulsa Turut Beri Andil Timbulnya Inflasi di Kabupaten Malang

Adanya inflasi tersebut dikhawatirkan turut memberi imbas pada daya beli konsumsi masyarakat di pasaran.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Ayu Mufihdah KS
SURYA/ERWIN WICAKSONO
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang, Tomie Herawanto 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang, Tomie Herawanto, mengatakan jika inflasi di Kabupaten Malang sempat mencapai 11 persen sejak pertengahan tahun 2018 ini.

Adanya inflasi tersebut dikhawatirkan turut memberi imbas pada daya beli konsumsi masyarakat di pasaran.

Sejumlah kecamatan yang ada di Kabupaten Malang secara topografi dekat dengan wilayah Kota menjadi wilayah yang berpotensi rawan terkena inflasi.

Djadjang Nurdjaman Buka Peluang Rotasi Pemain Persebaya Surabaya Kala Melawan Persib Bandung

Beberapa wilayah tersebut adalah Kecamatan Dau, Singosari, Pakisaji, Karangploso, Pakis, Tajinan, serta beberapa kecamatan lain, terbukti mengalami penurunan daya beli.

"Inflasi di Kabupaten Malang saat ini masih ada di angka 11 persen. Harapannya target kami pada akhir tahun inflasi bisa turun menjadi 9 persen semoga saja, menurunnya daya beli juga bikin  inflasi,” terang Tomie Herawanto ketika dikonfirmasi, Selasa (16/10/2018).

Tomie menambahkan, rokok dan pulsa ditengarai juga memberi andil dalam timbulnya inflasi

“Ada banyak faktor, yang kami lihat dari pengamatan kami, rokok dan pulsa mengakibatkan terjadinya inflasi,” sambungnya.

Menghadapi Persib Bandung, Persebaya Surabaya Ingin Hapus Catatan Negatif Lawan Maung Bandung

Sebagai langkah penyelesaian perihal menekan inflasi, pemerintah berusaha menggairahkan potensi  desa agar dapat jadi sektor vital pembangunan.

Caranya dengan meningkatkan potensi desa yang tersebar di 33 kecamatan di Kabupaten Malang.

Dari 378 desa di Kabupaten Malang, 62 di antaranya sudah menunjukkan berbagai inovasi sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Tomie sangat mendukung langkah dari pemerintah dengan mengikutsertakan potensi desa tersebut.

Belum Lakukan Pengisian SOTK, 105 Desa di Tulungagung Terancam Tak Bisa Mencair DD dan ADD 2019

Dirinya berharap, inovasi yang disampaikan oleh beberapa desa juga dipraktekkan di desa lain.

Sejauh ini kebanyakan masih potensi dibidang pertanian saja yang dikembangkan oleh perangkat desa.

Ia beranggapan jika masih banyak hal yang bisa dikembangkan seperti di bidang ekonomi, program dan pelayanan kepada masyarakat, hingga pariwisata.

"Sejatinya potensi desa sangat kaya, melalui bursa inovasi desa yang digelar kemarin diharapkan desa jadi sosok sentral pembangunan, dan tak hanya befokus di kota saja," pungkasnya.

Hadapi Mantan Tim, Djanur Punya Motivasi Berlipat Kalahkan Persib Bandung

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved