Pesawat Lion Air Jatuh

Sejarah Pendirian Bisnis Lion Air Grup: Rusdi Kirana Memulai dengan Pesawat Bekas & Sistem Persewaan

Rusdi Kirana, sosok pendiri Lion Air Group memiliki prinsip dan cara berbisnis yang punya karakteristik tersendiri. Simak selengkapnya.

Sejarah Pendirian Bisnis Lion Air Grup: Rusdi Kirana Memulai dengan Pesawat Bekas & Sistem Persewaan
kolase Kompas.com, dan Tribunnews.com
Rusdi Kirana dan Lion Air Group 

Rusdi sadar bahwa bisnis maskapai penerbangan bukanlah hal yang sepele.

Meski begitu, ia punya resep untuk mengatasi semua itu.

Moedjiono, Penumpang Lion Air JT-610 Dikenal Suka Berpetualang dan Punya Rasa Penasaran Tinggi

Rusdi Bukanlah Pria yang Berkelut dalam Airlines

Bakat bisnis yang dipunyai Rusdi bukan dalam hal penerbangan dan segala tentangnya.

"Dari awal, Pak Rusdi bukan orang airlines. Itu sebabnya, dari awal, walau modalnya sedikit, dia pelajari bisnis ini," ujar Edward.

Seperti disebut di awal, ketika memulai bisnis ini pada 2000, Lion Air hanya mempunya satu pesawat Boeing bekas untuk melayani dua rute destinasi.

Rusdi Kirana, pendiri Lion Grup.
Rusdi Kirana, pendiri Lion Grup. (Intisari)

Sehingga pada akhirnya, Rusdi berkembang dalam hal bisnis dengan terus memajukan Group-nya tersebut.

Menanamkan Rasa Keinginan Berpikir dan Terus Belajar

Rusdi bukan selalu menemukan kelancaran dalam membangun kerajaan bisnisnya.

Ilustrasi: Lion Air jenis pesawat Boeing 737-900ER berkapasitas 215 kursi.
Ilustrasi: Lion Air jenis pesawat Boeing 737-900ER berkapasitas 215 kursi. (Lion Air (Yosua Sancaka))

Lion Air Group pernah benar-benar jatuh sampai Rusdi hampir putus asa.

Ia sempat berkeputusan menjual maskapainya itu seharga Rp10 miliar.

Hai.grid.id (Grup TribunJatim.com) menuliskan ada pencegahan dari sang istri yang membuatnya terus mencari solusi.

Pada 2001, Lion Air menambah lima pesawat Yakolev dari Rusia yang statusnya juga bekas.

Saat ini, Lion sudah mulai membuka rute internasional.

Rusdi Kirana
Rusdi Kirana (Kompas.com)

Melakukan Hal Anti-Mainstream

Terbang menggunakan pesawat pada awal tahun 2000 silam merupakan hal yang dianggap tidak biasa.

Terbang menggunakan pesawat dianggap sangat 'berkelas' pada masanya dulu.

Sehingga, transportasi pesawat dibanderol dengan biaya yang tidaklah murah.

Cerita Moedjiono Korban Lion Air JT 610: Akan Gelar Ultah, Istrinya yang Sakit Ungkap Momen Terakhir

Tetapi, Rusdi mengubah semuanya, lewat strategi bisnisnya, ia mampu melakukan beberapa terobosan.

Seperti mengantar tiket langsung ke lokasi/rumah membelinya dan memberi hadiah Mercedes Benz bagi penumpangnya.

Sang Anak Jadi Pilot Lion Air JT 610, Ibu Bhavye Suneja Terus Ulang Kalimat Anakku Baik-baik Saja

Memiliki Prinsip: Tidak Ada yang Tidak Mungkin

Rusdi memutar otak agar bisa tetap membeli pesawat meskipun ia tidak memiliki dana besar.

Dikutip dari Tabloid Angkasa Edisi 2015 via Intisari, tahun 2002-2010, Lion Air mendatangkan 30 pesawat MD McDonnell Douglas dengan cara menyewanya.

Membeli pesawat bekas lebih banyak masalahnya, perawatan mahal dan risiko kecelakaannya lebih besar.

Percepat Tambah Reseller, Dusdusan.com Gencar Sosialisasi Peluang Bisnis Tanpa Beban di Surabaya

Oleh sebab itu, Rusdi Kirana memutuskan untuk tidak membeli pesawat bekas lagi.

“Banyak yang bilang, Lion Air itu kaya banget. Bisa beli banyak pesawat. Sebenarnya, kami cuma pesan. Belum tentu kami beli."

"Pesawat dikirim satu per satu sampai batas waktu yang ditentukan. Kalau nantinya enggak jadi beli, enggak masalah,” ucap Edward.

Resmi, Magister Manajemen Teknologi ITS Surabaya Buka Bidang Keahlian Baru Analitika Bisnis

Pada 2005 – 2025: memesan 430 pesawat Boeing baru.

Pada 2013 – 2025: memesan 234 pesawat Airbus baru.

Rabagus Nurwito (27), warga Kabupaten Bangkalan Madura yang menjadi salah seorang dari 189 korban Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang mengalami kecelakaan, Senin (29/10/2018).
Rabagus Nurwito (27), warga Kabupaten Bangkalan Madura yang menjadi salah seorang dari 189 korban Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang mengalami kecelakaan, Senin (29/10/2018). (TRIBUNJATIM/IST)

Lion Air Group Memiliki Apresiasi Tersendiri

Lepas dari segala persoalan yang menyelimuti Lion Air saat ini, ada beberapa hal yang seharusnya dapat apresiasi.

Sebelum Lion Air ada, transportasi udara dianggap sebagai transportasi mewah karena harganya yang relatif mahal.

Rusdi tidak percaya hal itu. Baginya, pesawat sama saja dengan transportasi lain, seperti kereta atau bus antarkota-antarpropinsi.

Dari situlah, dia membuat sistem budget airlines, sebuah sistem penerbangan yang menarik biaya semestinya.

American Airlines
American Airlines (Twitter/American Airlines)

Alias, cuma menarik biaya sesuai yang diperlukan moda transportasi untuk mengangkut penumpang.

“Apakah hotel akan disebut hotel kalau enggak ada tempat tidur atau kamar mandinya? Enggak kan?” tanya Edward.

“Itu yang kami lakukan di Lion Air. Kami memberikan yang esensi dari sebuah penerbangan. Kalau mau lebih, silakan bayar lebih,” tambahnya, seperti dikutip dari Intisari, Selasa (30/10/2018).

Deretan Fakta Terkini Lion Air JT-610 Jatuh: Kesaksian Nelayan hingga Radius Pencarian Diperluas

Penulis: Ignatia
Editor: Ani Susanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved